Friday, February 6, 2015

Perjalanan Itu Bernama "Hijrah"



"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (An-Nisaa':100)


Sudah lama ingin menuliskan kisah hijrah ini, tapi entah mengapa baru dapat saya sampaikan..

Semenjak SMA saya suka heran dengan mba-mba rohis yang jilbabnya lebar, dan setiap bertemu saya, selalu menjabat tangan dan cipika cipiki, padahal saya tidak mengenal mereka. Lalu saya berkaca, "kenapa ya mba2 itu?"  padahal jilbab saya gak selebar mereka. Saya tidak faham bahwa itulah sebaik2nya pakaian muslimah. Pemahaman agama saya teramat sangat lemah, meski saat itu sekolah memfasilitasi taklim pekanan.

Selang waktu berlalu takdir Allah ternyata mengizinkan saya untuk tinggal dan menuntut ilmu di belahan bumi-Nya yang lain. Suatu negara dimana Muslim menjadi hal yg tabu bagi mereka. Suatu kota yg hanya saya beragama Islam. Tidak ada masjid, tidak ada adzan, apalagi perempuan yang berhijab. Dari situ sebenarnya sudah ada keinginan untuk berhijab lebar, karena Qadarallah, justru kedekatan pada Allah sangat terasa ketika saya menjadi sosok yg single fighter di negeri orang. Segala keluh kesah hanya bermuara pada Allah dan airmata. Namun, apalah daya, seumuran anak SMA seperti saya kala itu, sendirian dan tidak punya pemahaman yg mantap ttg Islam dan pakaian muslimah, akhirnya niatan berhijab lebar pun hanya sekedar niatan semu.



Dulu saya tidak faham apa itu berhijab syar'i,  yang hanya saya tau muslimah itu diwajibkan menutup aurat. Meskipun bgitu, saya sempat berpikir, andaikan kala itu saya lebih lama lagi di negeri orang, pasti saya sudah berhijab lebar. Karna saya melihat kedamaian di wajah muslimah yg berhijab lebar dan rapi. Terlebih lagi waktu itu sedang booming film Ketika Cinta Bertasbih, di mana pemain utamanya mayoritas berlatar belakang pendidikan yg syar'i dan mengenakan pakaian kehormatan bagi muslimah. 😄
Walau niat utk berhijab lebar kala itu tidak terealisasi sempurna, tidak sekalipun saya ingin menanggalkan hijab saya meski banyak yang bertanya "Buat apa dipakai di sini, kan kamu bukan di Indonesia.",  "Apakah kamu setiap saat kamu harus mengenakannya?",  "Kalau mandi dicopot gak?"
Haha.. Saya tau akhirnya, menurut mereka Jilbab ini hanya kebudayaan, bukan bagian yg melekat dari agama seseorang.

Beberapa waktu berlalu dan kembalilah saya ke pangkuan Ibu Pertiwi, dan masih mengenakan jilbab yang "yaaah yang penting nutupin kepala dan leher laah". Namun terKadang, kenyataannya , berada di negeri yang membebaskan seorang muslimah berhijab sesuai syariat malah melalaikan saya utk taat kepadaNya.

Hingga akhirnya di tahun 2013, tepatnya tgl 7 Oktober, pag. Itu saya ingin pergi kuliah dengan hijab syar'i.
.
Bismillah...
Ketika itu saya malu-malu, hingga saya memilih utk menutupinya dengan jaket yang agak besar agar orang rumah tidak menyadari.
Saya tidak punya khimar yg syar'i maka saya ambil 2 lembar kerudung paris agar idak tembus pandang. :D
Setelah 2 3 hari, akhirnya teman2 menyadari perubahan saya dan suka kepo tanya "koq skarang udah berubah?"

Saya tidak pernah mnjawab dengan serius, tapi kali ini saya akan menulis dengan jujur. Bahwa semua berasal dari kecemburuan saya kepada seorang akhwat yang hanya saya tau namanya dan tulisan2nya.. Saya cemburu, sebab bagi saya Ia lebih mencintai Allah ketimbang saya mencintai Allah. Ia lebih bersemangat berdua-duaan dengan Allah, sedangkan saya masih lalai. Akhwat itu membuat saya ingin mengejar cintaNya, Allah. Apakah akhwat itu mengetahui saya? YA. Hanya saja saya pun tau, dalam hatinya mgkin tersimpan rasa tidak suka yang begitu besar terhadap saya. Sehingga itu menyulitkan saya utk menyampaikan padanya. Mengapa begitu? Mungkin hanya jadi rahasia Allah,  Ia dan Saya.

Walau berawal dari niatan itu, pelan-pelan saya menulusuri segala hal yg berkaitan dengan Islam dan bagaimana seharusnya muslimah itu berpakaian.. Allah..
Berislam sejak lahir tapi baru kali itu saya ingin belajar Islam (semoga Allah mengampuni keterlambatan ini).
Seperti orang yg sangat haus akan ilmu, saya menggali ilmu praktis melalu internet dan video2 islami, namun masih terasa ada kekosongan bila tidak berilmu dari majelis. Akhirnya saya mencoba bergabung lagi di halaqoh yg bertahun2 prnah saya tinggalkan. Dan sebaliknya, saya tinggalkan pertemuan2 yg tidak ada manfaatnya, perlahan aKhirnya teman-teman saYa menyadari bahwa saya mgkin tidaK Asik lAgi untuk diajak ngumpul atau sekedar nonton bAreng.


Dan suatu ketika, dalam renungan saya di perjalanan, airmata saya mengalir sambil memandang langit, (agak Lebay) , mensyukuri betapa kuasanya Allah menggiring saya menuju kepadaNya. Meski harus melalui org lain. Ya muqallibal quluub, tsabbit quluubana 'alaa diinnik. La hawla wa la quwwata illa billaah...
10 tahun berjilbab, baru itu saya faham betul makna menutup aurat.
Saya tidak tau apakah ini yang dinamakan hidayah.. Saya hanya bersyukur bahwa saat ini nikmat iman dan Islam itu begitu meresap di hati. Selalu ada perasaan sangat hina setelah melakukan dosa. Tidak seperti dulu yang merasa biasa saja. Astaghfirullah ...

Hijrah ke penampilan yang syari pula akhirnya menginspirasi saya untk menjadi bagian pjuang dakwah dalam berhijab syar'i dengan berdagang khimar. Hitung2 mengikuti jejak Rasulullah dalam menyebarkan dakwah melalui jalur berdagang..bukan bergadang :P Ingin memudahkan diri sndiri jika ingin membeli khimar dan memudahkan teman-teman yg lain. Rasanya juga jadi haru setiap ada teman yg pelan2 ingin merubah penampilannya..



Namun bukan berarti hijrah ini tanpa ujian. Saat teman-teman sanak saudara senang melihat perubahan saya, ternyata kekhawatiran itu dtg dari orgtua sendiri. Suatu malam,  mendidih kepala ayah dan ibu saya sebab mereka melihat perubahan saya ini tidak wajar. Krna saya pelan2 mendalami ilmu yang sunnah, saya pun meninggalkan perkara bid'ah yang terkadang masih ada dalam keluarga, dan ternyata itu memancing amarah kedua orgtua saya yg barangkali khawatir saya terikut aliran sesat dsb. Saya dan ibu berlinang airmata. Panas rasanya hati dan telinga ini mendengar kekhawatiran  Ayah dan Ibu yg begitu besar, sehingga kata2 terdengar perih bagai sembilu. Ingin rasanya menjelaskan dengan lancar dan lembut bahwa semua ini saya lakukan semata-mata krna ingin meraih cintanya Allah, namun suara saya tenggelam dalam isak tangis berjam-jam.

Tapi ternyata dari situ lah akhirnya pelan2 perubahan saya sedikit bisa diterima. ibu saya pun perlahan mengenakan hijab syar'i, tidak pernah lagi saya lihat ibu melilitkan hijabnya, meski terkadang ibu masih lupa mengenakan kaus kaki, tapi saya bersyukur bhwa orgtua akhirnya mengerti jalan hijrah ini penting..

Kemudian suatu hari, saya pun akhirnya memberanikan diri menemui akhwat yang turut berjasa dalam perjalanan hijrah ini. Saling bertukar cerita sekedarnya dan bicara perkara hati dan perempuan. Awkward memang, tapi saya harus cukup senang dgn pertemuan pertama itu. Meski saya tau, sampai detik ini mungkin Ia tak bisa menerima sepenuhnya keinginan saya untuk menjadi saudarinya, karna lagi-lagi hati wanita itu sulit dijamah. Saya pun tak tau mengapa. Namun doa selalu saya selipkan untuknya agar suatu hari kami bertemu dalan keadaan yg lebih baik dan Allah meridhoi pertemuan itu.


Dan perjalanan hijrah ini tidak akan semanis tanpa rahmat dan kasih sayangNya kepada hambaNya yg masih berselimut dosa ini. Sungguh, dengan berawal dari memperbaiki penampilan kemarin, serasa Allah jadi lebih dekat, dan tidak ada permasalahan yAng terlalu sulit untuk diselesaikan.

Hari ke empat pake jilbaB gede >.< 10 Oktober 2013

Thursday, January 29, 2015

Suatu Sore di Angkringan Jogja

Kala itu, untuk keempat kalinya nemanin si Jundullah kecil,  Amer, pergi ke tempat favoritnya yang baru yaitu "Angkringan Jogja" di daerah Seberang. 😄

Semenjak Ibu dan Bapak pergi menunaikan ibadah Umroh dengan Nenek dan Adik kedua, dan saya jarang masak karena banyak yang dikerjain , jadilah kami jadi pengunjung setia "gerobak cinta" paklek angkringan. Makanannya memang jauh dari kemewahan, tapi bagi saya dan Amer, makan enak gak perlu mewah.


Pada kunjungan ketiga, Paklek angkringan sepertinya mulai hafal wajah kami yang suka bolak balik makan disana baik dibungkus atau dibawa pula. Ada obrolan singkat ketika saya mengambil foto di atas
"Sana liat ke kamera, difoto sama Mama", kata paklek angkringan.

Seketika saya protes "Saya kakaknya paklek 😭"

"Oh maaf maaf kak, saya kira sampeyan mama nya".

Haha, sudah biasa sih dikira emak-emak (muda). Mungkin udah waktunya *eh.

Malam keempat, saya lihat Ada yg berbeda dari gerobak kecil paklek angkringan. Saya melihat ada bingkai foto yang ada gambar seorang wanita dan anak kecil, dan beliau. Saya menebak dalam hati. "Sepertinya ini keluarga kecil pakleknya"

Sambil menunggu sate usus, telur puyuh dan mendoan yang saya pesan sedang dibakar, saya iseng bertanya "Sudah lama di Samarinda paklek ?"

"Lumayan kak. Sudah 10 bulan...."

Dan paklek nya pun menceritakan agak detail tentang pengalaman beliau di Samarinda , dari berganti-ganti pekerjaan hingga masalah keluarga kecil beliau . Sebenarnya saya tidak bertanya lebih, hanya saja paklek itu terlihat ingin berbagi kisah saja. Walau begitu, nampak dari wajah beliau semangat untuk tetap bisa membahagiakan putri semata wayangnya yang diasuh oleh neneknya (sebab beliau dan istri sudah bercerai).

Lagi lagi, obrolan dengan paklek angkringan itu membuat saya harus lebih sering2 lagi bertafakur, dan bersyukur dengan nikmat Allah atas segala kecukupan yang Allah titipkan pada saya ..

Satu hal yang membuat saya betah bolak-balik ke angkringan situ selain karena Amer yang mau ialah, paklek itu nampaknya masih menjaga kesopanan ala Jogja beliau dengan menyapa saya dengan sebutan "Kak"..
Yah.. Paklek...semoga rejekinya barokah yaa dan biaa membahagiakan putri nya..

Saya bakal sering jajan di gerobak cintanya paklek deh.. Mendoan bakarnya bikin selera makan memuncak 🙌🙌🙌

Wednesday, January 21, 2015

Jalan Hijrah Muslimah

Dari tidak pakai kerudung, mulai memakai kerudung,
Dari kerudung pendek, mulai melebarkan kerudung,
Dari memanjangkan kerudung, mulai memanjangkan lagi dan lagi.
Dari berpunuk unta, mulai membiarkannya rata.
Dari tangan terbuka, mulai ditutup baju lengan panjang,
Dari ditutup dengan baju, mulai pakai sarung tangan
Dari kaki terbuka, mulai ditutup agar tak terbuka.

Adakah ringan menjalani semua itu?
Adakah mudah menempuh semuanya?

Belum lagi mendengar cacian orang.
Belum lagi menempuh anggapan saudara.
Belum lagi bersabar dengan kritikan kawan-kawan.

Ya semua tak mudah.

Dalam kepedihan menerima kritikan dan cacian,
INGIN TAU APA YANG PALING PEDIH BAGI ORANG YANG MENCOBA BERHIJRAH MENCARI SEKELUMIT RIDHA ALLAH?

YANG PALING PEDIH ADALAH,
bila orang memandang kita baik!
Memandang kita sempurna,
Memandang kita cukup terjaga,

Sedangkan hati masih dicemari dosa dosa.
Sedangkan ilmu masih lagi tak ada apa apanya.
Padahal, terkadang riya' sini sana.

Sedangkan,
Orang ingat,
Muslimah berkerudung panjang itu tinggi ilmunya.
Muslimah berniqab itu baik akhlaknya.
Muslimah tertutup itu sempurna orangnya.

Sedih bukan dianggap begitu?
Sedangkan diri sebenarnya tak seindah itu.

Orang yang memandang seperti itu tidak tahu.
Apa yang muslimah itu rasakan.
Apa yang muslimah itu tempuh.
Dalam waktu dia mencoba hijrah.

Orang tidak tahu.

Muslimah itu kadang kadang rapuh.
Kadang kadang jatuh.
Kadang kadang tak utuh.
Kadang kadang menyimpang jauh...

Muslimah itu kadang kadang tersesat..
Kadang kadang lebih berdosa dari pendosa.
Kadang kadang tergelincir dari landasannya.

Orang itu tidak tahu.
Muslimah itu sama.
Manusia biasa.
Punya rasa.
Punya jiwa.

Orang tidak tahu.
Muslimah itu juga sedang berperang melawan nafsu dunia.
Karena Ia sadar,
Hatinya tidak sejernih yang orang lain katakan.
Berusaha mencapai harapan orang orang yang berharap tinggi padanya.

Tabah lah muslimah.
Andai jalan itu yang di pilih.
Allah telah pun memelihara kita
Allah telah menjaga kita
Lalu, ia kembali lagi pada cara kita menjaga apa yang Allah jaga untuk kita.
“Islam datang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing sebagaimana kedatangannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”
- Hadith Riwayat Muslim -


*disunting dari fastabiqulkhoirot.tumblr.com

Tuesday, March 18, 2014

Jodoh Pasti Bertemu



Hari minggu memang biasanya saya rutin membereskan kamar tidur saya yang sebagian besar berwarna ungu. Tapi kali ini lebih tepatnya saya membongkar ulang gara-gara lemari saya kena tetesan air AC, jadi dalamnya berjamur dan harus di pindahkan letaknya. Alhasil, saya harus keluarin semua barang-barang di dalam lemari untuk mengurangi beban untuk dipindahkan. Maklum, saya kadang ngerasa punya tenaga super jadi segala sesuatu lebih enak dikerjain sendiri :P
Sedang dalam tahap pemberesan

Eh, tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya ceritakan dalam catatan virtual kali ini.
Begini…
Setiap kali “membongkar” isi kamar, saya selalu kembali melihat-lihat, mengecek ulang semua barang-barang saya, dan biasanya saya menemukan sesuatu yang sudah lama tidak saya lihat. Seperti halnya kali itu, saya menemukan lagi kotak yang isinya adalah surat yang sebenarnya dalam masa pencarian saya. Saya tau surat itu saya simpan, tapi saya lupa di mana. Alhamdulillah karena bongkar-bongkar, akhirnya saya menemukannya. :D
Saya membaca lagi isi surat itu dan seketika itu pula airmata saya menetes, dan rasa ingin mencari sosok pengirim surat itu pun kembali meningkat. Surat itu usianya sudah hampir 11 tahun, dan masih bernyawa. Hanya saja, beberapa tulisannya sudah mulai luntur. Saya masih ingat sekali, seseorang yang memberikannya pada saya. Seorang gadis cantik, ramah, dan baik hati yang bernama Kak Desy Marsellina.

Beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya ketika saya masih berstatus siswa Sekolah Dasar, di lingkungan SD saya ada beberapa rumah para guru dan staff.  Mereka menjajakan makanan ringan dan minuman untuk anak-anak SD, selain yang tersedia di kantin sekolah. Dari guru-guru yang tinggal di komplek SD itu, ada seorang guru saya yang mempunyai cucu yang juga tinggal di rumah beliau. Namanya Ibu Agnes, guru saya di kelas 5. Ibu nya tegas, tapi ramah sekali. Ibu itu yang memperkenalkan saya pada cucu beliau yang bernama Desy Marselina. Saat waktu istirahat tiba, Ka Desy yang biasanya menjaga warung kecil di teras rumah sehabis ia pulang sekolah. Ketika itu Kak Desy adalah siswa SMA Negeri 4 Samarinda.
Lama-lama, saya dan teman-teman perempuan saya akhirnya makin dekat dengan Kak Desy karena keramahannya mau bermain dengan kami. Ia membuat kami merasa nyaman berada di dekatnya dan seolah-olah menjadi kakak bagi kami. Hingga suatu hari saya dan Ka Desy pun menganggap kami adalah “saudara angkat”.
Setiap tiba waktu istirahat, Ka Desy sering mengajak saya dan 2 teman saya, Ijum dan Nurul, untuk menemaninya memasak di dapur. Ia bahkan memperbolehkan saya “mengobrak-abrik” kamarnya yang bercahayakan lampu yang tidak terlalu terang. Di dindingnya tertempel beberapa gambar hasil karyanya. Saya ingat sekali, saat itu ia memaksa saya yang malu-malu untuk makan makanan yang ia masak. Sampai harus terjatuh-jatuh karena tangan saya di tarik oleh teman saya. Ah, it was so fun :’)
Saya juga ingat, ketika itu di kelas saya sedang ada pendataan tinggi dan berat badan. Setelah selesai giliran saya, langsung saja saya keluar kelas dan menuju ke rumah Ka Desy yang saat itu sedang berada di dapur. :D
Entah lah, saya merasa sangat nyaman berada di sekitarnya. Namun, tak berapa lama, teman saya, Randi, memanggil saya dari luar dan menjemput saya atas utusan wali kelas yang menyuruh saya kembali ke kelas. Hahaha.
Berhubung ketika itu teknologi belum terlalu menyentuh kehidupan saya, dan tidak ada kamera, saya dan Kak Desy berencana untuk mengabadikan foto kami berdua di studio foto di dekat Pasar Pagi. Ya, kami naik angkot bersama. So sweet ya. hehehe
Hal yang paling tidak bisa saya lupakan adalah ketika tiba hari istimewa saya. Tanpa sepengetahuan saya, ternyata Kak Desy bersekongkol dengan teman baik saya, Ijum, untuk ngerjain saya. Saat jam pelajaran telah usai dan anak-anak berlarian pulang ke rumah, Ijum menarik tangan saya dan menumpahkan tepung di sekujur badan saya, dan tidak lama…datang Kak Desy di teras kelas saya dan membawa sebuah bingkisan. Saya terharu, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Saya langsung membukanya dan waktu itu, isinya adalah beberapa gelang, kipas tangan, dan akesoris lainnya. Dan satu lagi, ada sepucuk surat yang ditulis tangan. Itulah surat yang sampai saat ini masih saya simpan.
Ketika itu, saya tidak begitu faham maksud dari surat itu. Namun saya bertekad untuk selalu menyimpannya.

Pernah sekali saat lebaran tiba, saya bersepeda ke rumah Kak Desy, namun sayangnya saat itu Pak Gun  memberi tahu bahwa ia sedang tidak berada di rumah, dan saya pun memutuskan untuk menunggu. Namun, ibu saya menelepon ke rumah Pak Gun bahwa saya harus segera pulang karena akan berkunjung ke rumah keluarga. Jadi lah saya tidak bertemu dengan Ka Desy.
Sayangnya, setelah saya lulus SD, tidak pernah lagi bertemu dengannya karena komunikasi kami pun terputus. Tidak ada telepon genggam, dan lingkungan belajar saya sudah berbeda. Pernah saya bertemu dengan Kak Desy di salah satu masjid saat terawih. Saya melihatnya sendirian, dan saya pun mengejutkannya. Ka Desy tampak sedikit terkejut atas kemunculan saya. Kami saling bertanya kabar dan lain hal. Hanya sampai di situ saja sampai akhirnya saya benar-benar kehilangan kontak dengan kakaknya.
Waktu terus bergulir, dan saat itu saya sudah berada di negara yang berbeda. Jauh dari comfort zone saya. Saya rutin menulis sebuah diary, dan saat tepat tanggal 18 Desember, bertepatan dengan ulang tahun Kakak tercinta itu, saya menulis sebuah cerita tentangnya diiringi dengan air mata rindu. Entah saya harus menyampaikannya pada siapa, selain Allah. Saya pernah pula menceritakannya pada teman saya dan ia membantu mencarikan lewat segala media sosial, namun tidak ada tanda-tanda Desy Marselina yang sesuai kriteria :( Saya pun pernah berhenti mencari.

Beberapa minggu lalu sebelum saya membongkar kamar, saya menghubungi Randi, saya menceritakan bahwa saya mencari sosok Kak Desy, namun ia sendiri tidak tahu bagaimana, karena ia tidak dekat. Saya tau seseorang yang insyallah bisa menjadi jembatan saya agar dapat terkoneksi lagi dengan Kak Desy. Namanya, Nurul. Teman saya yang pernah mengojek dengan Pak Gun. Tapi sayangnya Randi pun tidak punya kontaknya. Pupus lah..
Hingga ketika saya menemukan surat itu lagi, saya bertekad kali ini saya harus mendapatkan kontak Kak Desy. Saya percaya kekuatan sebuah doa. Saya percaya pada mustajabnya doa-doa di sepertiga malam dan di tiap sujud yang panjang. :’) Saya tidak menyerah, hanya saja kali ini saya benar-benar memohon Allah membantu pencarian saya. Saya juga meminta kemurahan seseorang yang berada di tanah suci untuk turut mendoakan doa saya..
Ajaibnya, 2 hari berselang setelah itu, teman saya Nurul meng-invite bbm saya. Saya berfikir bahwa ia mendapatkan pin saya dari Randi, namun ternyata ia mendapatkannya dari Facebook saya, karena saya mencantumkan pin BB saya pada postingan Jilbab yang saya jual. :’) MasyaAllah.. benar-benar Allah menjawab doa saya..
Langsung saja saya menanyakan perihal kontak Pak Gun, Alhamdulillah Nurul mau membantu. Ia menanyakan pada neneknya yang dulu bertetangga dengan Pak Gun, dan Nurul pun memberikan nomor Hape Ibu Agnes.
Saya masih setengah gemetar, entah doa siapa yang Allah jawab saat itu. Yang pasti, saya percaya kekuatan doa. Saya yakin allah pasti mendengar doa setiap hambaNya.
Sore harinya, saya menelepon sederet nomor yang Nurul berikan pada saya, dari seberang sana terdengar suara yang ramah..
“Halo, Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam.. ini bu Agnes?”
“Iya, ini siapa ya?” Saya bisa membanyangkan suara di sana menjawab dengan senyuman,
“Ibu Agnes, ini Icut,Bu. Murid Ibu waktu SD. Masih ingat Bu?”
“Eh Ya Allah,Icut. Masih, ibu masih ingat. Apa kabar? Sekarang kuliah dimana?” suara Bu Agnes terdengar semakin sumringah.
Obrolan-obrolan sederhana sebagai perkenalan (lagi) itu terus berlanjut, dan saya akhirnya mengutarakan maksud saya mencari Kak Desy
“Nah, itu Cut.. Kakakmu itu baru aja tadi malam masuk Rumah Sakit”
Saya langsung lemas. Mungkin ini maksudnya Allah memberikan saya kemudahan untuk mencari Kak Desy saat ini, karena ada sesuatu yang terjadi padanya. Tapi Bu Agnes menjelaskan bahwa Kak Desy daya tahan tubuhnya lemah, jadi apabila Ia terlalu banyak beraktifitas, ia mudah jatuh sakit. Belum lagi, riwayat maagh yang ia punya. Begitu kata Bu Agnes. Saya menanyakan RS tempat di mana Kak Desy dirawat beserta ruangannya. Namun Ibu Agnes sendiri pun belum tau karena baru dini hari tadi Kak Desy dibawa ke Rumah Sakit Islam. Terbesit dalam hati untuk menjenguknya di RS, namun saya belum memastikan kapan, sebab kepadatan kegiatan saya belum memungkinkan untuk menemuinya di RS.
Berita baik yang saya dapat, Kak Desy telah menikah dan mempunyai seorang putra berusia 3th. Subhanallah :’)

Keesokan harinya, saya tengah berunding dengan beberapa setumpuk pekerjaan saya di salah satu kantor di Gatot Subroto. Tiba-tiba hape saya berdering dan muncul sederet angkata tidak bernama. Saya langsung saja mengangkatnya, dan terdengar dari sana suara Ibu-ibu. Pikir saya, barangkali orang tua murid yang ingin mendaftarkan anaknya di program AFS.
“Ini Mba Icut ya? Yang tinggal di Mangkupalas?”
“Iya Bu.. ini saya. Ini ibu siapa ya?”
“Ini mba Desi..”
“Devi?” saya salah mendengar.
“Ini Mba Desi de..”
MasyaAllah.. saya langsung terbelalak. :’) Hampir tidak percaya… Orang yang selama ini saya cari pun akhirnya yang menghubungi saya. Padahal saya sengaja tidak mencari kontak nya, karena saya ingin memberi kejutan. Namun justru saya yang terkejut. Ia memberi tau bahwa Ia dikabari oleh Ibu agnes bahwa saya mencarinya. Ia terdengar sangat senang karena saya masih mengingatnya.
Entahlah.. saya menceritakan pengalaman saya dalam mencarinya. Ia tau saya sempat pergi jauh, dan ia senang karena saya menuruskan harapannya.
Saya percaya bahwa Allah akan mempertemukan kedua sahabat yang mencintai karenaNya. Saya percaya bahwa pada akhirnya, setiap orang akan bersama orang yang dicintainya :'( . Meski memang sampai diketiknya catatan virtual ini saya belum bertemu Kak Desy, namun saya bahagia karena setidaknya saya sudah bisa berkomunikasi lagi dengannya. Insyallah dalam waktu dekat kami akan bertemu. Allah benar-benar menjawab doa saya ketika saya telah pada titik pengharapan saya yang terakhir.

 Dari Anas ra. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw, lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah saw tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Abu Dawud)

Tidaklah saya ingin kembali bersilaturahmi dengan saudara angkat saya itu karena rindu, dan Allah semata. Saya hanya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai saudaranya lebih dari dirinya sendiri.
Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari)


A placed where my heart is....

Makin hari makin kangen suasana rumah di Samarinda. Cuaca yang gloomy, mendung mendung adem, Sehra bobok, dan sendirian begini bikin hati ma...