Thursday, November 14, 2013

PEMIKIRAN POLITIK PRAMOEDYA ANANTA TOER


Pendahuluan


Biografi Singkat
Pramoedya Ananta Toer lahir tanggal 6 Februari 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ia adalah putra sulung dari seorang guru yang nasionalis. Ayahnya putra tertua seorang naib, sementara ibunya putri tengah seorang petinggi keagamaan dari Rembang. Di usia empat tahun pada 1929, Pramoedya masuk di sekolah yang dipimpin ayahnya.  Selama periode ini,  ayahnya mendedikasikan waktu di sore hari setelah sekolah, khusus untuk membinanya. Sang ayah mengajarinya tentang alam, nasionalisme, cerita-cerita rakyat, tentang penindasan, penderitaan manusia dan keserakahan Belanda. Di dalam cerpen Pramoedya “Yang Sudah Hilang”, Ia menggambarkan ibu sang narator mengajarkannya  hal-hal seperti kajian tentng flora dan fauna lokal, nama-nama binatang serta konsep nasionalisme dan identitas budaya.

Latar Belakang dan Pendekatan Kritis Terhadap Sastra
Ketegangan sosial yang terjadi pada awal 1950-an menyebabkan perubahan-perubahan politik diantisipasi para seniman dan penulis dengan dengan mengekspresikan ketidakpuasan dan rasa frustasi mereka terhadap masyarakat kontemporer dalam karya kreatif mereka. Pada saat itu, PKI adalah satu-satunya partai yang menaruh minat untuk “meluas dan meninggikan” aspek-aspek yang lebih halus dalam kehidupan manusia, dalam hal ini yang dimaksud adalah seni dan budaya, demi masyarakat yang buta huruf di Indonesia. PKI  merespon dan tertarik kepada para penulis dan seniman yang secara sosial kurang beruntung. PKI menunjukkan perhatian kepada peran-peran mereka serta kebutuhan mereka untuk mendapatkan tempat di masyarakat. Namun keberadaan mereka tersebut juga didikte oleh program-program partai sehingga mudah bagi mereka untuk bertindak, sadar atau tidak sadar, sebagai juru bicara kebijakan-kebijakan partai merupakan sebuah peran yang mencoreng kredibilitas mereka sebagai seniman-seniman bonafid.
Situasi yang demikian dan dibarengi pula oleh krisis yang berkepanjangan dalam rumah tangga Pramoedya, sehingga membuatnya berpaling ke arah Kiri. Di saat itu itulah Pram didekati oleh A.S Dharta yang saat menjadi sekretaris Jenderal Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang juga merupakan pendiri Lekra. Lekra juga mengatur agar Pram diundang untuk menghadiri peringatan hari wafatnya pengarang terkemuka di China yaitu Lu Hsun. Di saat Ia berkeliling Cina, Ia melihat bagaimana partai Kiri berusaha menyelamatkan rakyat selama ribuan tahun dalam kesengsaraan. Dia melihat juga bahwa di negeri itu, para seniman dan terutama para pengarang mendapat penghargaan yang tinggi dari negara sehingga hidupnya memadai. Meskipun ia tidak menelan begitu saja propaganda yang dihadapkan kepadanya, namun ia menyadari bahwa untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia haruslah ada uluran tangan dari kekuasaan yang membimbing dan mengarahkannya.
Sosok Pramoedya sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh sastra tanpa afiliasi politik. Namun setelah adanya Konsepsi Soekarno yang merupakan suatu tanda atau simbol bagi Pramoedya untuk mengambil keputusan yang tegas, ia kemudian mampu mengutarakan sikap politik secara dramatis dengan menjadikan dirinya salah satu tokoh sastra tenar pertama yang mendukung suatu program baru presiden. Karena PKI adalah partai politik pertama yang mendukung Konsepsi Presiden Soekarno, jadi wajar saja bagi Pramoedya apabila hal itu dipromosikan sebagai suatu unsur kebudayaan dalam jurnal ideologi resmi dari suatu partai politik.













Pembahasan

Pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer merupakan salah seorang pemikir politik yang menganut paham nasionalisme yang ditanamkan oleh ayahnya semenjak ia kecil. Ia menuangkan ide-ide pemikiran serta kritiknya terhadap kondisi sosial dan politik di Indonesia melalu karya-karya sastranya, dari esai, cerpen, hingga novel. Karya-karyanya yang beraliran realisme sosial, merupakan hasil seleksi pengalaman hidup yang pernah ditempuhnya. Ia sosok novelis yang mencurahkan pemikirannya di bawah naungan humanisme dan ciri kemanusiaan merupakan landasan utama penciptaan seluruh karya sastranya. Di dalam karyanya, Pramoedya mengusut berbagai inti pemikiran dari kritikannya terhadap pemerintahan.
Aliran Realisme Sosialis
Kegandrungan Pramoedya terhadap sejarah kemungkinan besar dipengaruhi oleh teori sederhana Maxim Gorky: The people must know their history (rakyat mesti tahu sejarahnya). Pengaruh lain bisa disebutkan datang dari aliran realisme, terutama realisme sosialis. Bagi Pramoedya, salah satu watak realisme sosialis adalah "terutama memberanikan rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri". Dalam definisi Pramoedya, Realisme sosialis merupakan metode yang meneruskan filsafat materialisme dalam karya sastra serta meneruskan pandangan sosialisme-ilmiah. Dalam menghadapi persoalan masyarakat, realisme sosialis mempergunakan pandangan yang struktural fundamental.
Realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana "penyadaran" bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing (teralienasi, dalam istilah Marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.
Realisme sosialis mereka memang bukan layaknya realisme sosialis yang berkembang kemudian. Keberpihakan mereka terhadap rakyat pekerja yang lemah lebih merupakan suatu komitmen sosial, dan bukan atas dorongan landasan-landasan yang lebih ilmiah seperti halnya realisme sosialis sebagai aliran yang datang lebih kemudian. Atau dengan kata lain, realisme sosialis mereka bisa dikatakan sebagai realisme sosialis "cikal bakal" yang masih bersifat sosialisme utopis. Sedikit membela mereka, Pramoedya mengistilahkannya sebagai kekeliruan, bukan kesalahan.
Ini benar, hampir dalam semua karya Pramoedya, tokoh-tokoh protagonisnya hadir untuk berjuang demi cita-citanya secara gigih, tetapi kemudian secara terpaksa menyerah kepada kenyataan yang ada. Pramoedya sering kali memang tidak menempatkan karya sastranya dalam semboyan atau teriakan tentang cita-cita yang muluk. Yang terpenting bagi dirinya adalah bangkitnya kesadaran pembaca (masyarakat) akan tanggung jawab sebagai manusia untuk keadilan dan kebenaran.

Konsep Nasionalisme
Secara garis besar konsep nasionalisme Pram yang dikaitkan dengan bentuk Negara, Pram lebih suka bentuk kesatuan. Ia tidak sepakat dengan bentuk federalism, karena ia menganggap bahwa dengan federalism intervensi asing akan mudah masuk ke Indonesia. Pram lebih menyukai otonomi sebagai bentuk kompromi pertentangan konsep Negara kesatuan yang terlalu absolute dengan konsep Negara federalism yang terlalu bebas. Apabila memakai konsep Negara federalisme Indonesia juga belum tentu mampu menerapkannya. Karena wilayah kelautan juga masih sering kecolongan dikarenakan masih lemahnya sistem pertahanan dan keamanan pada batas-batas kelautan di Indonesia.
Pram berasumsi bahwa persoalan mendasar yang perlu dibenahi dalam persoalan berbangsa dan bernegara adalah wawasan dari sejarah yang berangkat dari rasa kebersamaan sehingga kita menjadi satu bangsa Indonesia. Wawasan tersebut tidak boleh dilupakan dan harus dikuatkan dan disepakati. Tugas kita adalah mengajarkan wawasan kebersamaan tersebut kepada anak-anak.
Kata kunci konsep dasar nasionalisme dalam sejarah pergerakan masyarakat Indonesia sebenarnya adalah persatuan. Pram pernah menulis karyanya  yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Yang dilatarbelakangi kunjungan Pram ke Banten untuk menggerakkan masyarakat dalam persatuan untuk melawan pemberontakan DI/TII. Soekarno pernah berkata bahwa Pancasila itu bisa diperas menjadi trisila kemudian bisa diperas lagi menjadi satu, yaitu gotong royong. Pram menceritakan dalam karyanya tersebut tentang nasib masyarakat yang selalu ditindas terus, mulai dari penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, Agresi Militer Beanda I dan II, kemudian ditambah lagi pemberontakan DI/TII. Penindasan yang sempurna untuk masyarakat Indonesia. Makin menderita saja masyarakat Indonesia, kemudian sudah menderita masih ditambah lagi tercerai berainya tatanan masyarakat. Jika masyarakat tidak mau bersatu dan gotong royong tunggu saja datangnya pahlawan bertopeng yang akan melepaskan masyarakat dari penderitaan akibat penindasan. Penderitaan ini sangat kronis karena berlangsung sangat lama dan terus menerus sampai keturunan-keturunan berikutnya.
                Pram juga melihat jika perkembangan nasionalisme dari tiap zaman perlu dilakukan perubahan. Zaman kolonialime tentu berbeda situasi dan kondisinya dengan orde lama maupun orde baru. Nasionalisme 45 adalah semangat. Musuh kita pada tahun 45 adalah penjajah yang bisa dilawan dengan perang yang menggunakan kekuatan fisik. Seperti halnya Perang dunia I, Perang Dunia II, atau Perang Salib. Namun, saat ini perang yang kita alami berganti menjadi perang ekonomi, pertarungan menanamkam modal di Negara lain.

Konsep Jawasentrisme
                Pramoedya Ananta Toer mengkritik fenomena kekuasaan yang terlalu Jawa Sentris. Fenomena ini ini ditolak oleh Pram dikarenakan sudah sejak zaman penjajahan pusat pemerintahan selalu berada di Jawa yang mengakibatkan banyak ras-suku yang bermigrasi ke Jawa. Mereka menganggap bahwa Jawa lebih baik dari pulau lain dan lebih, mudah, enak, nyaman, tenteram, bahagia bekerja ataupun sekolah di Jawa. Singkatnya, mereka lebih suka hidup di Jawa daripada hidup di daerahnya sendiri yang secara pembangunan masih tertinggal dari Jawa.
Pram menilai apabila konsep pemusatan kekuasaan nasional di Jawa cenderung menjadikan kita sebagai bangsa yang hanya bergerak ke dalam, tidak berani melakukan ekspansi, dan menonjolkan kekutan di luar. Bangsa yang hanya cari aman saja, Akibatnya banyak terjadi konflik internal tidak berkesudahan dalam perjalanan bangsa sejak merdeka sampai reformasi.
 Pramoedya sepertinya melihat, monopoli (kebudayaan) Jawa adalah biang keladi KKN yang menghancurkan tata pemerintahan yang baik dan bersih sepanjang sejarah nusantara. Menurut pengakuan Pram, ketika zaman Soekarno muncul wacana untuk memindah ibukota Negara ke Palangkaraya, ia setuju dengan wacana tersebut. Namun, tidak terlaksana karena pemerintahan beralih ke rezim Soeharto. Sebenarnya sewaktu zaman Soeharto Pram pun berharap bahwa pusat pemerintahan akan berpindah dari Jawa. Namun, setelah lama menanti sampai rezim Soeharto beralih ke era reformasi tidak kunjung berpindah, dan pusat pemerintahan sampai saat ini tetap berada di Jakarta yang masuk wilayah Jawa.


Konsep Marxisme (Pertentangan Kelas)
                Salah satu konsep pemikiran lain dari Pramoedya mengenai kehidupan sosial Indonesia pada masa itu ialah Marxisme (pertentangan kelas) yang dituang dalam novel salah satunya berjudul Bumi Manusia. Nilai marxisme  dalam novel Bumi Manusia dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan Pramoedya sendiri. Hal itu merupakan cerminan kehidupan Pramoedya yang penuh dengan perjuangan guna menegakkan keadilan.
Marxisme merupakan pemberontakan untuk memperjuangkan keadilan, kebenaran dan kemanusiaan yang merata bagi seluruh umat manusia. Marxisme mengandung nilai perjuangan keadilan, nilai penghapusan strata sosial, nilai rasa senasib-sepenanggungan, nilai multikulturalisme dan nilai anti-kapitalisme atau persamaan yang terdapat dalam novel Bumi Manusia.
                Buku tersebut bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu di bawah.
Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang “Nyai” yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Minke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Millema.
Melalui buku itu, Pram menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, dapat mengubah nasib. Seperti di dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa HBS dan Minke. Bahkan pengetahuan si nyai itu, yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah HBS.

Konsep Humanisme
Untuk menghubungkan “realisme sosialis”-nya dengan isu-isu kontemporer, Pramoedya memperingatkan bahwa humanisme universal bukanlah sesuatu yang istimewa, melainkan hanya sebuah versi baru dari apa yang ada pada masa kolonial yang disebut kebijakan etis. Sebagai  pewaris kebudayaan, para penulis akan mempromosikan sifat universal kemanusiaannya dan bukan kecenderungan-kecenderungan budaya tertentu yang terbatas hanya pada satu bangsa. Sikap ini kemudian dikenal dengan istilah “humanisme universal”. Pernyataan ini menegaskan bahwa rakyat berasal dari percampuran yang memunculkan dunia-dunia baru nan sehat. Dengan demikian rakyat tidak terbatas pada kelas sosial tertentu.
Di mata Pram, humanisme universal adalah humanisme individualis-borjuis yang melemahkan cita-cita revolusi karena membawakan pesimisme dan negativisme, cerminan bagi suara kapitalis Barat yang kehilangan tanah jajahan. Sementara itu, realisme-sosialis berwatak optimistis dan menentang kapitalisme dan imperialisme. Pram lalu menyatakan, salah satu watak realisme-sosialis adalah sikap militan yang ia kutip dari Maxim Gorky: if the enemy does not surrender, he must be destroyed.
Dengan demikian, pembelaan terhadap humanisme tidak bisa diukur dari realis atau modernisnya suatu karya. Karya realis bisa saja sangat humanis, seperti karya Pram, tapi bisa juga antihumanisme ketika ia menjadi “seni resmi”, “seni pembangunan”. Sementara itu, puisi liris, yang kelihatannya individual, dalam rezim totaliter bisa saja menjadi suara subversif. Melalui karya-karyanya, Pramoedya senantiasa menghadirkan sosok revolusioner, pembawa perubahan, dan penentang arus yang memberikan perlawanan terhadap situasi dan kondisi mapan yang tidak memanusiakan manusia. Humanisme Pram berlaku pada konsistensi membela keadilan dan kemanusiaan. Pram memberi pesan damai pada semua peradaban baik yang dimiliki pada setiap bangsa.




Pengaruh Pemikiran Pramoedya

          Militansi ala Gorky yang telah dipaparkan sebelumnya, mungkin dipakai sebagai pedoman Pramodeya ketika duduk sebagai dewan redaksi di Lentera. Hasilnya, beda persepsi dan stilistika penulisan karya sastra ditransformasikan ke ranah publik hingga melahirkan konflik-konflik yang berujung pada terali penjara. Kelompok sastrawan yang tidak seide dan seiman dengan barisannya ‘terpaksa’ berkonsolidasi dan melahirkan Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Di akhir hayatnya, ketika Pramoedya ditanya kenapa dulu di Lentera menyerukan agar penulis yang tidak berpihak pada the perspiring and toiling masses ‘dibabat’ dan ‘tidak perlu diberikan ruang sekecil-kecilnya’, pledoinya ternyata mambu-mambu security approach dan paradoks dengan pesan humanisme yang ada di dalam karya-karyanya. Pramoedya membuat kesepakatan keberpihakan dengan penguasa, menurutnya, saat itu Soekarno sedang terancam dan negara dalam bahaya. Karena itu, seni yang tidak seiring-sejalan dengan revolusi harus ‘dibabat’.
Di sisi lain, Godftaher Realisme-Sosialis ini ternyata membawa pertimbangan-pertimbangan pribadi ke dalam intrik pemikiran berkesenian dan berkebudayaan Indonesia kala itu. Pramoedya memaparkan sebuah alasan pribadi bahwa ketika dirinya duduk di beranda Lentera, ia sangat marah pada militer dan semua yang diperalat oleh militer karena penahanan atas dirinya yang semena-mena. Dan Lentera adalah alat yang tepat dan masuk akal untuk digunakannya sebagai media balas dendam kepada ‘musuh-musuh’nya yang sekarang berbaris rapi dalam kubu Manikebu.

Hoa Kiau
Istilah Hoa Kiau yang digunakan Pramoedya merujuk secara khusus kepada warga Republik Rakyat Cina yang hidup di Indonesia. Dalam analisanya mengenai sejarah dan latar belakang sosial sebelum kedatangan kolonialisme Belanda, sepanjang periode kolonial, dan semenjak kemerdekaan, Pramoedya tidak membedakan antara orang Cina yang berdarah murni dan peranakan. Dalam hal ini, Pramoedya memandang minoritas masyarakat Tionghoa dalam pemikiran yang mirip dengan pemikiran yang mirip dengan pola pemikiran pandangan kebanyakan masyarakat non-Cina yang lahir di Indonesia dalam memandang masyarakat non-Cina yang lahir di Indonesia dalam memandang masyarakat pendatang tersebut, yaitu sebagai kelompok orang asing yang homogen.
Karya Pramoedya mengenai minoritas Tionghoa agak berbeda. Karyanya terutama membela hak-hak “hoa-kiau” atau “orang asing” Tionghoa yang hidup di Indonesia. Ia berpendapat, antara lain, bahwa adalah hak dari “hoa kiau”  untuk mempertahankan kewarganegaraan RRC mereka, baik secara aktif maupun pasif. Pramoedya berependapat bahwa seharusnya untuk menjadi warganegara RRC dan memilih untuk memilih tinggal di Indonesia bukanlah suatu kejahatan. Tidaklah adil melarang mereka bermata pencaharian hanya karena mereka adalah warga negara asing.
Selain itu, menurut Pramoedya bahwa musuh utama dari orang Indonesia bukanlah para “hoa kiau”, namun para imperialis dari industrialis asing dari Barat  : Inggris, Amerika, Belanda, dan sekutu lokal mereka yaitu para borjuis nasional dan komprodator kapitalis. Argumen tersebut sejalan dengan sudut pandang beberapa fraksi PKI dan Baperki yang dipimpin Siau Giok Tjhan. Analisa sosial Pramoedya dan jargon yang dipakainya sangat mirip dengan analisa PKI tentang masyrakat Indonesia pada masa itu, khususnya tentang “borjuasi nasional” dan “komprador kapitalis” yang dianggap sebagai kelas-kelas dalam masyrakat yang harus dihancurkan oleh partai demi terbentuknya sosialisme.
Alasan Pramoedya untuk membela orang asing Tionghoa adalah alasan kemanusiaan. Ia mengatakan bahwa ia ingin mengungkapkan rasa persamaan dengan orang “tertindas” dari negara manapun. Ia sendiri memiliki sebagian darah Cina. Dengan alasan subjektif dan pribadi apapun di balik pembelaannya, jelas bahwa dengan mengekspresikannya ketika debat politik mengenai minoritas Tionghoa terpolarisasi antara PKI dan partai-partai politik lainnya, Pramoedya dapat dilihat tengah menyelaraskan dirinya secara politik dengan Pki dan bersebrangan dengan PNI. Pandangannya tidak selalu sejalan dengan pandangan orang Tionghoa tentang diri mereka sendiri, terutama jika warga Tionghoa itu anti komunis.
Fakta-fakta tersebut bersama kedekatan Pramoedya dengan Lekra memperlihatkan bahwa pembelaannya akan orang Tionghoa adalah pembelaan terhadap kelompok minoritas terbatas khususnya kelompok yang juga dibela oleh PKI. Dibandingkan artikelnya yang terdahulu “Djembatan Gantung...” dalam karya inilah Pramoedya terlihat jelas merengkuh pandangan sosial dan politik PKI.
Hoa Kiau karya Pramoedya kemudian dilarang tak lama setelah terbit dan dirinya sendiri dipenjara selama enam bulan.




Kesimpulan

Pramoedya ananta Toer dianggap penulis kontroversial di tanah air karena menurut catatan sejarah,  Pram pernah dituding sebagai juru bicara LEKRA  (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Lembaga ini adalah salah satu corong budaya milik “organisasi sayap kiri”  yang dibentuk oleh DN Aidit, Nyoto dan sebagainya dalam memposisikan gerakan PKI dalam opini masyarakat pada waktu itu melalui tulisan, tarian dan budaya. Inilah yang menjadi ganjalan utama Pram dari masa muda  hingga menjelang masa kebebasannya di akhir hayatnya.
Ganjalan yang dialami oleh Pram memang unik, ia bukan saja menjadi “musuh” zaman kolonial, tetapi juga menjadi musuh bagi pemerintahan Soekarno pada zaman orde lama dan terus berlanjut menjadi musuh pemerintahan zaman Orde Baru (Orba).
Pramoedya menjadi musuh tiga zaman tidak lain adalah karena kritikan-kritikan Pramoedya melalui tulisan-tulisan dan gagasannya kepada para penguasa. Ide pemikirannya memang tidak bertentangan dengan pemerintahan, karena ia menganut paham nasionalisme, namun karena kritikan-kritikan yang ia gagas dalam karya-karya sastranya itulah yang akhirnya menyebabkan ia harus menghabiskan tujuh belas tahun lamanya di penjara.  Akibat idealismenya juga, Pram dijauhi sekaligus dimusuhi. Salah satunya adalah tuduhan terhadap Pram sebagai antek-anteknya LEKRA yang kejam dan sadis.
Seiring dengan meningkatnya  keterbukaan pemerintah RI dengan meningkatnya perhatian pemerintah RI dalam menjalankan  prinsip HAM dan Demokrasi, Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan TIDAK terlibat G 30 S PKI. Penulis ini pun lantas meneruskan kembali bakat dan menyalurkan idealismenya melalui tulisan-tulisan yang tetap tajam dan mengkritisi pemerintah dengan amat tajam. Akibatnya, dia kembali lagi berurusan dengan Pemerintah Orba.
Penulis Semi Fiksi yang mampu  menggambarkan interaski antara budaya  ini akhirnya meninggal  dalam usia 81 tahun. Meskipun dia terus terluka  dalam “sayatan”  ketajaman tulisannya, akhirnya dia dapat tersenyum juga. Masalahnya bukan karena telah mendapatkan pengampunan dari pemerintah RI tentang status dan kejelasan nasibnya sebagai warga negara Indonesia yang seutuhnya, melainkan karena ia telah meninggalkan hasil karyanya yang diakui dunia.

Sunday, July 28, 2013

Repost : Ayah

Pertama kali liat postingan "Ayah" ini dari blog nya orang, saya hampir nangis darah.
Terlebih karena waktu itu status saya sebagai anak perantauan yang bener-bener jauh dari orang tua.
Berasa sekali posisi Ayah di hati dan hidup saya bener-bener seseorang yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Siapapun. /sedih



Ada beberapa alasan kenapa ayah begitu istimewa bagi aku.
Dan kutipan cerita dibawah ini cukuplah untuk mewakili segalanya.
Walau tak semuanya tulisanku, tapi sangat sama apa yang aku rasakan.

Biasanya anak-anak yg jauh dari orang tuanya merasa kangeen sekali dgn ibunya.

Lalu bagaimana dgn ayah?

Mungkin ibu lebih sering menanyakan keadaan anaknya setiap hari .tapi taukah kamu jika ayahmu yg mengingatkannya utk menelfonmu?

Mgkn ibu yg lebih sering mengajakmu bercerita,tp taukah kamu sepulangnya ia bekerja dgn wajah lelah ia selalu menanyakan kabarmu dari ibumu?

waktu kecil..

Ibu mengajari putri kecilnya bermain sepeda. Setelah dia mengganggap kamu bisa ia melepaskan roda bantu di sepedamu, Saat itu ibu menutup mata karena takut anaknya terjatuh lalu terluka.Tapi ayah dgn yakin menatapmu mengayuh sepeda dgn pelan karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.

Saat kamu menangis meronta meminta boneka yg baru,ibu menatapmu iba, tetapi ayah mengatakan dgn tegas "kita beli nanti,tapi tidak sekarang" karena ia tidak ingin kamu menjadi manja dgn semua tuntutan yg selalu di penuhi.

ketika kamu remaja

kamu mulai menuntut utk keluar malam. Lalu ayah mulai bersikap lebih tegas ketika mengatakan "tidak".
itu utk menjagamu karena kamu adalah sesuatu yg berharga.
Lalu kamu masuk ke kamar membanting pintu.
Tapi yg dtg mengetok pintu dan membujuk mu adalah ibu.
Taukah kamu saat itu ayah memejamkan matanya dan menahan diri,karena Dia sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tapi lagi2 dia harus menjagamu. :(

saat seorang pria mulai sering datang mencarimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia. Dan sesekali menguping atau mengintip saat kmu sdg brdua di ruang tamu. Tahukah kmu dia merasa cemburu?

dan saat dia melonggarkan sedikit peraturan, kamu melanggar jam malamnya. Ia duduk di ruang tamu menunggu mu pulang dgn sangat2 khawatir. Wajah khawatir itu mengeras ketika melihat putri kecilnya pulang terlalu larut. Dia marah. Karena hal yg di takutinya akhirnya datang "putri kecilnya sudah tidak ada lagi. :(

Saat Ayah sedikit memaksamu utk menjadi seorang dokter, ketahuilah bahwa ia hanya memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh dia tetap tersenyum saat pilihanmu adalah menjadi seorang penulis.

Sampai saat Ayah harus melepasmu di bandara. Bahkan badannya terlalu kaku utk memelukmu. Ia hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu. Dia ingin menangis seperti Ayah yg menangis dan memelukmu erat. Matanya memerah. Tapi dia hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundakmu berkata "jaga diri baik2 ya di sana" Agar kamu kuat utk pergi. (Bagian ini bener-bener saya rasakan sendiri. Di mana pada saat itu untuk pertama kalinya saya melihat ayah saya benar-benar menahan airmatanya untuk melepaskan saya pergi)


Saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester, pulsa, dan kehidupanmu, orang pertama yg mengerutkan kening adalah Ayah. Berusaha mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dgn yg lain.

Ketika permintaanmu bukan lg sekedar meminta boneka baru, dan ia tau ia tidak bisa memberikan. Dia sangat ingin mengatakan "iya nak,nanti kita beli" dan saat kata2 yg keluar adalah "tidak bisa" dari bibirnya. Tahukah kamu Ia merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

Saat kamu sakit dan tidak berada di dekatnya. Ayah terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak berkata "sudah di blg jgn minum air dingin!".berbeda dgn ibu yg memperhatikanmu dgn lembut.
ketahuilah saat itu ia benar2 khawatir dgn keadaanmu.

Dan saat meng-upload beberapa foto di fb,myspace,dll Ayah kadang bertanya "dari sekian banyak fotomu, koq foto ayah ga ada ya?" dengan bercanda. tapi tau kah kamu saat itu hatinya sedih bukan kepalang. (Yang ini juga pernyataan nyata yang terucap dari ayah saya. Waktu itu saya sendiri tidak sadar ternyata tidak ada foto ayah saya di social media yang saya punya. Beliau iri.)

Saat kamu dalam perjalanan dan kehujanan, ayah adalah orang pertama yang akan mencarimu sambil membawa jas hujan untukmu walau dia harus kehujanan.

Dan di saatnya nanti kamu wisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah org pertama yg berdiri dan memberi tepuk tangan utk mu. Dia yg tersenyum bangga dan puas melihat "putri kecilnya yg tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman hidupmu datang dan meminta izin mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati2 memberikan izin.karena ia tau laki2 itu yg nanti akan menggantikan perannya.

Dan saat nanti Ayah melihat mu duduk di panggung pernikahan bersama seseorang yg di anggapnya pantas menggantikannya. Ayah pergi kebelakang panggung,dan menangis "tugasku telah selesai dgn baik.putri kecilku yg lucu telah menjadi wanita yg cantik"

Ayah hanya bisa menunggu kedatangan mu dan cucu2nya sesekali utk menjenguknya. Dgn rambut yg telah memutih dan badan yg tak lagi kuat utk menjagamu dari bahaya. /nangis

Ayah adalah sosok yg harus selalu terlihat kuat bahkan ketika dia tidak kuat utk tdk menangis. Harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Ayah jg orang pertama yg selalu yakin bahwa "kamu bisa" dalam hal apapun.

tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih syg seorang Ayah hingga tugasnya selesai.kmu adalah salah satu org yg beruntung. Karna Ayah adalah sosok idola yang sebenarnya"



*nangis sampe ingusan lagi*

Repost : Party In The USA

Yahh, ini cuma postingan kenangan hampir 3 tahun yang lalu. Saat semua mimpi terasa menjadi nyata..

Pagi itu seperti biasa.. eh ga deh..pagi itu ga seperti biasanya.. kenapa?
pagi itu tanggal 11 November. tandanya aku brumur 17.
Waktu jam 12 malam tiba* aja sister aku datang ke kamar n ngucapin " HAPPY BIRTHDAY, I ♥ U ! " dan kemudian hostdad juga ngucapin.

Hari itu hari spesial, jadi icut pakai batik ( ga nyambung sih ! ).hehhe
Ga tau kenapa rasanya pengen senyum spanjang hari. Hari ini cerah banget. Seperti biasa, tiap pagi sebelum nunggu bel icut nangkring di ruangan hostmom untuk OL. 2 menit sebelum bel icut siap* pergi ke kelas.
Anak* pada nunggu di depan loker dan di hallway nunggu bel. Icut melintas di antara mereka dan tiba* aja ada yang triak " CHOOCHOO! HAPPY BERTDAY! " . Wahhh senyum icut jadi tambah lebar.
Perhatian! Nama aku disini jadi "choochoo" -__-'
-------------------------------------------------------------------------------------
Bel udah bunyi dan masuk ke 1st block. 1st block icut pelajaran INTRODUCTION HEALTHCARE gurunya namanya Mrs. Tucker. Gurunya cantik baik rajin. (ssssttt Icut ngefans!). Saat semua udah masuk, tiba* aja Mrs.Tucker ngajak murid* nyanyi HAPPY BIRTHDAY TO YOU.... Dan lagu itu gak cuma buat icut koq, soalnya kemaren temen icut juga ada yang ulang tahun. Walau begitu, icut seneng banget. ^^

Tiap pelajaran mau dimulai, kami mesti ngucapin yang namanya American Creed. Dan setelah itu biasanya dengerin pengumuman menu untuk lunch atau meeting club. Tapi setelah itu ada suara-suara aneh berkata " HAPPY BERTDAY TO CHOOCHOO " , klik!

Waw.... senyum icut jadi tambah sumringah... :D
-------------------------------------------------------------------------------------
2nd block pelajaran INTRODUCTION EARLYCHILDHOOD. Tiap hari Rabu kami observasi ke Primary School. Tapi kemarin itu observasi yang terakhir. Icut sengaja bawa segudang permen untuk dibagiin ke anak-anak kecil di PS.
I have my girl in PS. Namanya Gracey. Dari awal ketemu Gracey bner-bener menyenangkan. Dia masih kelas 2. Dia imut banget. Waktu pertama kali ketemu dia ngasih icut 3 pensil.
Dia tau hari itu hari ulang tahunku dan dia ngucapin Happy Bday. Trus dy nyuruh temen-temenya ngucapin juga, Lucu kan,,,, :D
Pas udah waktunya balik ke skolah, icut bilang ama guru di PS icut mau bagiin permen. Gracey excited banged dan dia bilang THANKYOU byk kali dan peluk icut.
Pas udah di depan pintu mau balik Gracey langsung peluk icut lagi, dia bilang dia harap masih bisa ketemu icut. :).
So sweeeeeeettttt
-------------------------------------------------------------------------------------
Pas udah di bis mau balik, temen* nyuruh icut duduk paling belakang. Ntah kenapa, Icut mikirnya mereka marah ama Icut.
Trus guru icut datengin icut, Beliau ngajak ngobrol. Icut agak heran soalnya jarang-jarang beliau gitu. Akhirnya icut dan guru icut turun dari bis belakangan.
Pas mau masuk kelas, ga tau nya kelasnya terkunci. Ga heran sih,, soalnya udah sering kekunci tiba*.
Gurunya icut ngetok pintu dan pas pintu dibuka lampunya mati. Pas Icut masuk kelas .......

" SURPRISEEEEEEEE!!!!!!!!!!!! CHOOCHOO HAPPY BIRTHDAY "

-------------------------------------------------------------------------------------
DAGDIGDUG!!!!
Sungguh ga icut sangka bakal dikasih surprise party.
Temen* nyediain cookies, chips, drinks, dan banyak bgd..
Icut jadi terharu..
Bener* tersentuh..
Sama sekali ga habis pikir..
Ini SURPRISE PARTY pertama kali dalam hidup Icut..

-------------------------------------------------------------------------------------
Dan saat Icut pergi ke loker , sepanjang hallway semua temen-temen ngucapin Happy Bertday. Pasti karena suara microfon tadi pagi.
Dan ternyata, di pintu loker Icut udah ditempel Birthday Sign dari temen*..
^^
Makasih banyak Bacon County High School

YA ALLAH SUNGGUH ENGKAU MAHA KAYA DAN MAHA MENGETAHUI

--------------------------------------------------------------------------------------
Untuk semua temen-temen aku, makasih banyak udah ngucapin selamat ulang tahun. Ga ada ucapan yang lebih mnggembirakan selain ucapan happy bertday. ^^

Dan untuk temen* di SMA 4, aku salut dan bahagia banget punya kalian, walau aku dimana kalian tetep ngerayain ulang tahun aku walau aku ga ada di sana. Kalian tetep nganggap aku ada di rumah dan buat acara seru seolah aku dsamping kalian, ;D

Ternyata di dunia ini, persahabatan itu memang ga ada dua nya........
Mungkin ga banyak yang nyadar dan ga banyak yang tau, kalau aku bener* sayang temen-temen aku..


I <3 my friends..How wonderful you are.
That was my first amaziiiiing surprise party.
I was soooo touchful.
I was speechless.
No words I could speak than THANK YOU SO MUCH CLASS!!!!! I LOVE YOU ALL. I'LL HANG UR NAMES UP IN MY DEEPEST HEART FOREVER AND EVER!
How wonderful you are. That was my first amaziiiiing surprise party. I was soooo touchful. I was speechless. No words I could speak than THANK YOU SO MUCH CLASS!!!!! I LOVE YOU ALL. I'LL HANG UR NAMES UP IN MY DEEPEST HEART FOREVER AND EVER!

Wednesday, July 17, 2013

Love in Foods

There is good feeling when you have one person who always appreciates what you had done to him.
Especially when you made any food that you're not even sure how does it taste, but he keep eating them anyway. /ketawa
I am not expert in cooking. I am just cooking whatever I want.
And one thing that makes me glad is that I have one person who gladly eats any food I make.




In Loving Memory


"Grandma holds our tiny hands for just a little while, but our heart forever"

 Beberapa hari yang lalu iseng bongkar-bongkar catatan di facebook, dan ternyata masih tersimpan rapi catatan yang pernah aku buat. Waktu bacanya lagi, ga nyangka kalau airmata masih bisa mengalir. Here I go... /sedih

Ada banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupanku.
Tapi ada satu orang yang selalu bercahaya dalam hatiku,,
yang selalu selalu menceritakan tentang aku di masa lalu..

Wanita itu, nampak tua. Namun, sinar matanya tak henti memancarkan kehangatan yang seolah-olah selalu hidup dalam dirinya.
Aku ingat,,, wanita itu pernah bercerita tentang hidupku dan hidupnya yang telah lalu..

Saat itu..

“ Ninabobo…ooo ninabobooo.. kalau tidak bobo digigit nyamuk…” nyanyiannya untuk seorang balita yang tak lekas tidur.
Namun sang balita hanya bisa bersuara“ Oee…Oee..” tangis tiada henti.
“ Lho,,, Icut ko tambah nangis toh.. Bobo’ nduuk.. ntar lagi Ibu pulang koq..jangan nangis ya..”

Yeahh,, kala itu aku masih berumur sekitar satu tahun. Dan beliau selalu setia menggendongku dan me-ninabobo-kan ku tatkala ibu ku harus pergi bekerja. Tak peduli sekeras apapun suara tangisku, beliau selalu berusaha agar aku bisa tertidur pulas.

Tahun demi tahun berjalan…… suara tangis itu menjadi tawa kecil yang riang.
Aku telah masuk usia kanak-kanak. Sudah saatnya bersekolah. Beliau masih sering mengasuhku karena kedua orang tuaku tengah tekun bekerja sehingga aku dititipkan di rumah beliau kala mereka bekerja.
Beliau dengan setianya selalu menyiapkan sarapan untukku dan membawakan bekal untuk aku pergi ke sekolah.

Aku masih ingat, dan ingat sekali,,
tentang kotak makan berwarna hijau -bekas kotak sabun colek bermerk “Sunlight”- yang beliau berikan sebagai tempat makan yang selalu penuh dengan makanan kesukaan ku.

Pulang dari TK, adalah beliau yang menunggu kedatanganku dengan senyum ceria yang selalu aku hadirkan untuk beliau. Dan semangkuk mie instant+telur kocok sudah beliau siapkan untukku.
Saat bulan puasa tiba, aroma nikmat selalu mengepul dari dapur rumah beliau.
Aku ingat,,
Saat itu aku berkata “ Aduh, rasanya pengen batalin puasa!” . Dan beliau menjawab “ Hah?! Bantal ?? Untuk apa??!! “ JDER!!

Sang waktu tak hentinya berjalan. Saat aku duduk dibangku SD, beliau tak terlalu mengasuhku lagi. Aku tinggal sepenuhnya dengan orangtuaku. Namun, saat hari libur tiba, aku biasanya menghabiskan waktu di rumah beliau dengan sepupu-sepupuku yang lucu dan menjengkelkan (hahaha!)
Dan setiap ada “Kuda Lumping” , telepon rumahku selalu berdering dengan telepon dari beliau yang sangat tau sekali aku suka Kuda Lumping.
Lagi, saat lebaran tiba, setelah sholat Id, rumah beliau selalu dipenuhi dengan sanak saudara dan tetangga-tetangga tak peduli malam ataupun siang. Dan yang tak pernah absen saat Idul Fitri di rumah beliau adalah… SOTO LAMONGAN… hehe

Seiring dengan pertambahan usia,,
Aku semakin besar, dan beliau pun semakin tua. Dan rasa sayangku pada beliau semakin bertambah pula. Aku akan masuk SMP, dan sengaja aku memilih SMP yang dekat dengan rumah beliau. Agar aku bisa berkunjung ke rumah beliau setelah pulang sekolah.
Aku terbiasa pulang sekolah jalan kaki. Mendaki gunung lewati lembaaaaah..
Tak seberapa jauh, hanya saja harus menanjak gunung. Tak jarang nafasku tersengal dan rok sekolahku robek karena langkahku yang terlalu lebar, atau terpleset karena gunungnya licin saat hujan.
Biasanya, aku selalu menemui beliau di depan pintu dapur yang selalu aku lewati setiap pulang sekolah. Atau di warung depan rumah beliau, yang tengah duduk bercengkrama dengan tetangga dan yang tahu akan gerak-gerikku yang seraya minta ditraktir segelas Pop Ice Vanila Blue favoritku.

Setelah duduk di bangku klas 2 SMP, beliau mulai sakit-sakitan. Namun tak patah semangat untuk membuat Madu Mongso, jajanan khas Jawa yang selalu aku temukan dalam toples sebagai penambah kemeriahan Idul Fitri.

Ya…
Beliau.. Ialah beliau yang selalu ada untuk aku, selalu memberi kecerian untuk orang-orang terdekat beliau, penuh semangat, dan ikhlas mengahadapi cobaan.

Aku ingat,
Pagi itu aku dan ayahku menyempatkan diri menjenguk beliau di pagi hari sebelum pergi sekolah. Aku dengar sakit beliau kumat. Ayahku mengantarkan aku ke sekolah, lalu balik lagi. Dan aku tak seberapa ingat lagi setelah itu. Kalau tak salah seseorang pernah memberi tahuku beliau tak sadarkan diri setelah menanjaki tangga dari dapur. Hingga mengharuskan beliau untuk dilarikan ke rumah sakit.

Sempat aku menjenguk beliau,
Diruangan yang hening, aku dan ibuku membacakan sebuah surah walau aku hanya berharap beliau bisa mendengarku. Mata beliau terpejam, seakan sedang menghayati perjalanan beliau ke dunia mimpi. Ya, beliau koma. Detak jantung beliau yang ku lihat di Cardiac Monitor, tak secepat detakan jantungku yang ingin sekali memeluk beliau seperti dahulu. Tak bisa ku tahan airmataku saat ku kecup dahi beliau.
Setelah itu, aku pulang dengan langkah gontai.
Hari ke hari, beliau tak kunjung terbangun dari perjalanan ke dunia mimpi. Sabar dan berdoa. Hanya itu yang bisa kami lakukan.

Aku tengah berkonsentrasi belajar sore itu. Tak seperti biasanya, hapeku bergetar berkali-kali waktu itu. Aku lihat di layer hapeku, nama dari salah satu sanak keluarga tepampang. Aku langsung saja menjawab. Dan tiba-tiba saja rasanya seluruh organ tubuhku tak berkontraksi, aku terpaku pada satu kata “ Innalillahi wainnailaihi roojiun, Cut yang sabar ya.. Mbah udah ga ada! “. Tak aku sangka secepat itu. Rasanya ingin aku berlari, berlari mengejar beliau yang akhirnya telah sampai di penghujung mimpi dan tak mungkin kembali……........

Tak bisa ku tahan airmataku... benar-benar tak bisa...

Ku ambil kunci motor dan bergegas pergi...
Butiran airmataku mungkin terbang terbawa angin...
Sesampainya di sana, benar saja...
Rumah beliau yang selama ini ramai saat lebaran , kali ini semakin ramai . Tapi bukan untuk berlebaran, tapi mendoakan kepergian beliau.......

Lailahaillaullah...

Beliau benar-benar telah tiada..
Tiada lagi yang akan menunggu aku di kala pulang sekolah..
Tiada lagi yang membuatkan mie instan kesukaan ku..
Tiada lagi,, tiada lagi.............

In loving memory, Mbahku tersayang.

I Could See How Broken She Is (2)

Continuing the previous post.
Remember about the girl who shared her story to me?
Yes, I'm still seeing that she is having a hard time to get through her situation.
She sent me a message via messenger few days, that...... she finally felt a bit better than before.
She learned to let the memories go even she told me some bad and good memories that she can't forget that easily.
But yet, she keeps telling herself that "if he finally chooses that girl to with forever, she will really let him go. So I know the game is end."
She asked me to keep praying for her, which exactly I did before she asked it.
She doesn't want to go back home sooner. She prefers to stay for a while in the city she belongs in right now to refresh her mind for a while.
She applies some programs that could bring her away from here.
Yeah, she is pursuing and continuing her dreams. Even if she can feel that there is a big hole in her chest.

Good luck my baby, moii. It was just a bad memory, not a bad life. Deal with it, learn from it, and soon leave it.

Monday, July 8, 2013

I Could See How Broken She Is

Doesn't matter how good she hides everything, girl is girl. She will cry when nobody sees her. She might be posting some cheerful tweets, status, picture, or anything else, she's just trying to deny the problem. She pretends to be cool like everyone knows, she was laughing the entire day, but when she gets in her room, the pressures come to her way. All the memories come again and fulfill her mind. It feels like there is something stuck in her throat, very hard to come out.

At the moment I asked her, I could see how broken she really is. I could see that she really needs someone who understands the story. In the middle of that big city in country, she feels alone and abandoned. I know she really loves that guy since the beginning. She fell too hard on him. She loves him too much to let her be cheated, hurt, and to be left. She is broken, I know. But she still loves him by the broken pieces. Even though she knows that he is already with somebody.

There's nothing more to fight for but being a better person.

A placed where my heart is....

Makin hari makin kangen suasana rumah di Samarinda. Cuaca yang gloomy, mendung mendung adem, Sehra bobok, dan sendirian begini bikin hati ma...