Thursday, August 27, 2015

DIY CHEVRON PATTERN ON WOOD TUTORIAL


Alhamdulillah akhirnya kesampean punya Chevron table. 
Mejanya pakai meja lama yang sudah jelek warnanya. Ga perlu baru.

Okay, here's the step.

Sebelum nekat ngecat ulang meja, make sure udah dapat restu Ibu, supaya gak kena omel. 

Siapin alat dan bahan yang dibutuhkan seperti
- Kuas (lebih enak pakai kuas kanvas, saya pakai nomor 11, tergantung medianya juga sebesar apa. Kalau pakai kuas tembok, kayanya lebih boros cat dan kurang rapi)

- Cat (Karena saya pengen bikin warnanya hitam putih, jadi beli catnya hitam dan putih. Saya pake cat kayu merk "rj" sbg pewarna dasar, dan pakai Cat Acrylic sebagai pelapis akhir. Cat Acrylic saya beli di Gramedia)

- Thinner (of course ya, pendampingnya cat kayu sbg pengencer)

- Masking tape (must have item!) untuk memudahkan membuat pola chevron.

- Alat lainnya sperti gunting, penggaris, cutter.

Langkah :
1. Amplas permukaan media yang mau dicat



2. Sapukan cat warna putih sebagai cat dasar. Biarkan kering dan cat lagi sampai 2-3 kali sampai rata Keringkan kurang lebih 24 jam. Setelah kering, Lapisi dengan cat acrylic dan tunggu sampai kering lagi. (cat acrylic ini cepat koq keringnya).


3 & 4. Tempelkan masking tape. Kalau mau repot, diukur dulu agar garisnya sama. Tapi saya pakai ilmu kira2 ajaa biar cepat 😅.





5 & 6. Potong bagian yang tidak dibutuhkan pakai cutter, sehingga terlihat pola chevron sperti di gambar.





7. Sapukan cat hitam di bagian yang putih. Hati2 jangan pakai Thinner kebanyakan, warna nya biSa nyampur.







8. Setelah agak sedikit kering, kupas masking tapenya sesuai pola. (Peel off!)


9. jadii deeehhh ... Let it dry for hours 😍😍😍😍





Try this at home yaaa 
Yang doyan foto2 ootd, diy pattern table ini bisa jadi solusi sbg background , ga perlu beli alas foto.. Kalau biSa bkin sndiri, ngapain beli 

Semoga bermanfaat ..

Saturday, August 22, 2015

Be a Pleasure Seeker of ALLAH only!

 Tidak akan rapuh dimakan waktu nasehat seperti ini:

"Sangat mudah ya melihat kelemahan org lain, sehingga seringkali melupakan kurangnya diri sendiri. Selalu fokus pada pembelaan diri sendiri, tapi kita lupa kalo kita ini makhluk yg juga sama lemahnya seperti mereka. Kita ga bakal bisa mghrap ridho semua manusia, kita berusaha jadi orang yang baik pun orang masih pandang sebelah mata. Cukup tau jee, di luar sana ternyata masih saja ada org yang tak ridho kalau kita melatih diri untuk sabar. Kita belajar baik aja orang cakap yang jelek2, cemana pula bila kita buat yg buruk2?
Sebabtu, setiap apapun perbuatan baik yg akan kita lakukan, niatkan semua karena Allah sahajaa..kan Allah juga yg perintahkan.. Biar orang nak pandang kita cemannee.. pendusta ke, nak cari muka je, apa ke, tak payah layaan.. Maju terus.. Orang tak sukaa, cari jalan lain.. Jangan berhenti jadi baik.. "

(bilingual eh?)

Thursday, July 30, 2015

REVIEW SURGA YANG DIRINDUKAN (THE MOVIE)

Sekali lagi, aku bukan tipe orang yang doyan nonton film. Film apa aja. Mau bagus,  mau kurang bagus, mau hambar...yaa biasa aja..
Setiap kali nonton ke bioskop pun selalu yang mendadak2,  dan ngikut aja diajakin nonton apa. Terakhir nonton ke bioskop juga kayanya tahun lalu, nemanin Bhagas nonton Night At The Museum,  gara2 pulangnya minta jemput dia.. :3

Dan, kemarin sama sekali gada rencana nonton sebenernya, karena bagiku denger dari orang aja dah cukup lah ya. Hihi. Cukup tau aja kalau filmnya ya tentang rumah tangga. Intinya ya "cinta".


Tapi waktu lagi chat (sekitar jam stgah 3 siang) sama salah satu akhwat, temen menuntut ilmu, (sebut saja Mba Nur :p) tiba2 diajakin nonton hari itu juga jam 18:50.

Awalnya ogah2an juga. Tapi mumpung ada temen yg ajak, yaaudah deh, sekali2 :')



Sumber: google

Eh ngomong-ngomong maaf ya judulnya saya ganti. Karena saya orang yang merindukan surga >.<


SURGA YANG (TAK) DIRINDUKAN adalah satu novel karya Asma Nadia yang kembali diangkat ke layar lebar..


Aku dah mempersiapkan diri untuk gak seperti orang yg kebanyakan. Rata2 setiap cewek yang lapor ke aku setelah nonton ini nangis karena filmnya sedih katanya.


 Bukan karena aku ga sensitif ya, haha, karena aku males aja keluar bioskop dengan mata sembab. Karena aku mudah banget matanya sembab. Nangis krna ngupas bawang aja mata udah bengkak merah pula. -___-

Pokonya nonton film yang kira2 sedih gitu di bioskop, sebisa mungkin nahan diri untuk gak meneteskan air mata. Karena sekali menetes, porak poranda lah pertahanan berbi.. Hahaha.. Bakal ga berhenti nangis..

Scene pembuka film ini diawali dengan seorang ibu-ibu yang nampak kusut rambutnya berjalan di lorong sempit dengan langkah gontai.. Kemudian ada teriakan anak laki2 yang memanggilnya "Ibuuuuuu...."

Namun ibu tersebut trnyata berbalik badan dan berlari keluar lorong dan tubuhnya disambar sebuah mobil berkecepatan tinggi. Ibu itu memang ingin bunuh diri. Dan anaknya menyaksikan bagaimana ibunya bunuh diri di depan matanya sendiri.

Anak itu lah yang bernama Prasetya (yg diperankan oleh Fedi Nuril). Pras bermimpi ketika ia melihat detik2 kematian ibunya di depan matanya sehingga membangunkan dirinya..


Prasetya dan dua temannya (Amran dan Hartono) memiliki proyek di Yogyakarta. Mereka bertiga adalah arsitek.

Dalam perjalanan mencari lokasi proyek yang dituju, Pras menolong seorang anak yang terjatuh dari sepedanya dan dibopong menuju mobil. Kemudian Pras dan kedua temannya mengantar anak tersebut ke masjid tempat anak ini belajar.

Sesampainya di masjid yang dimaksud, Pras menyerahkan anak itu ke salah satu pengajar di masjid itu. Namanya Arini (yang diperankan oleh Laudya Chintia Bella -mohon maaf atas kesalahan penulisan nama)



"Aku Citra Arini. Panggil saja Arini"
Sumber: instagram @suhayhs

Itulah awal mula pertemuan mereka. Prasetya langsung terpuka melihat kecantikan Arini, sehingga ada sesuatu yang akhirnya membuatnya untuk bertahan. Dari yang awalnya hanya ingin mengantar anak kecil yang terluka, menjadi kekaguman akan pesona Arini dan seolah tidak mau melewatkan begitu saja, Pras melihat Arini mendongeng kepada anak2. Dongeng yg dibuat oleh Arini ialah Dongeng Madani.


Sangat keibuan sekali yaa.. Perempuan mendongeng di depan anak-anak ~ *uhuk*


Selepas Arini selesai dengan tugasnya mendongeng, ia menghampiri Pras yang ternyata duduk di sudut pendopo sambil melihat rekaman video Arini mendongeng yang ia rekam dengan ponselnya.

Arini yang tau hal itu tentu saja tersenyum tipis. (aaaa, cewek mana sih yang ga demen diperhatiin diem2, hahaha)

Arini pun menyapa Pras yang kemudian membuat Pras terkejut sehingga hampir saja ponsel itu terjatuh. Arini mengingatkan Prasetya untuk segera mengambil wudhu sebab waktu sholat sudah tiba.


"Mas Prasetya mau jadi imam kan?"


"Hah.. Secepat itu?"


"Sholat kan memang harus disegerakan toh mas.."


"Astaghfirullahal'adzim...iya iya, saya mau."


Haha, rupaya Pras masih berhalusinasi..


Pras tidak ingin menyia-nyiakan pertemuan itu begitu saja. Maka ia beranikan diri untuk meminta nomor hape Arini. Semenjak itu, Pras dan Arini saling berkomunikasi, bertukar cerita, dan bunga-bunga cinta pun tumbuh...


Bapak Arini yang mengetahui gerak gerik anaknya pun mulai mengajak obrolan serius.


Naah, menurutku momen yang mengharukan dari film ini adalah ketika Bapak mengajak putrinya berbicara ttg pendamping hidup :')

Entahlah.. Tiba-tiba saja saya membayangkan ada di posisi Arini ketika itu.. Bahkan pertanyaannya pun hampir sama :')

"Jadi, kamu serius dengan laki-laki asal Solo itu? Apa kamu yakin dia akan jadi imam yang baik?"


"Siapa sih yang bisa menjamin seseorang itu baik atau tidak kalau bukan kita yang mempercayainya, Pak?"


"Lalu, kamu percaya sama dia?"


"Hmm.. Atas ridho dan izin dari Bapak.."


Yaah kira-kira begitu cuplikannya :') haru.. Andai airmata ini gak dtahan, mungkin dah sesegukan..haha..


Akhirnya Pras pun meminang Arini.. Dan singkat cerita, pernikahan mereka dikaruniai anak perempuan yang bernama Nadia..

Kehidupan keluarga kecil nan bahagia ini mengambil setting di Rumah Paris, Jogjakarta. Aaahh emang kece badai sih ya konsep rumahnya itu..


Sumber: Instagram @rezapradinata


Suatu hari, mereka berencana ke rumah Orangtua Arini di daerah Muntilan. Karena Pras masih harus menyelesaikan proyek, maka ia memilih menyusul Arini dan Nadia selepas ia selesai dengan proyeknya yang sudah mendekati deadline. Namun sebelum Arini pergi, Arini sempat khawatir dengan Pras. Sebab, suami salah seorang sahabatnya diduga berselingkuh dengan wanita lain. Ia khawatir bila saja Pras juga mempunyai kecenderungan untuk menduakan Arini. Melihat Arini yang cemberut, Pras mencoba menenangkan Arini dan tidak suudzon kepadanya, bahwa semua akan baik-baik saja.


Hmmm...


Ketika Pras akan menyusul ke Muntilan,  diperjalanan ia melihat mobil yang terjun ke jurang. Ketika itu hanya dia yang melintas sehingga ia segera mengecek pengemudi tersebut dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Betapa terkejutnya Pras ketika dokter mengatakan bahwa pengemudi tersebut tengah hamil besar dan harus segera diambil tindakan.


"Hah?! Hamil dok?"


"Iya. Hamil. Lho? Anda tidak tau? Kan anda suaminya

Suaminya"

"Bu..bukan dok. Saya bukan suaminya."


"Lalu siapa yang akan bertanggung jawab?"


"Hmmm... Hmm.. Saya dok. Saya yang akan bertanggung jawab.."



Bagi Pras, ia hanya ingin menolong wanita itu dan bayinya agar lolos dari maut. Pras tidak menyangka bahwa tanggung jawabnya akan lebih dari itu. 

Di saat menunggu proses kelahiran, suster menyerahkan handphone wanita tersebut kepada Pras.
Dengan alasan ingin menghubungi sanak saudara wanita itu, Pras pun membuka kontak dalam Hp itu, namun nihil. ia hanya menemukan data diri wanita yang sedang ia tolong.

Namanya Meirose, yang diperankan oleh Raline Shah.

Ternyata, di Hp tersebut, Meirose meninggalkan video yang ia rekam dengan menggunakan gaun pengantin, persis seperti keadaannya sekarang, Video itu dibuat Meirose untuk mengungkapkan segala kekecewaannya kepada Papa nya, segala curahan hati dan betapa hancur hidupnya setelah Mama nya bunuh diri di hadapannya. Ia menjadi anak yang lepas kendali dan seseorang yang menghamilinya pergi melarikan diri. Jadi, intinya video itu dibuat dalam rangka detik-detik Meirose akan bunuh diri. Upayanya bunuh diri dengan terjun ke jurang ternyata digagalkan oleh Pras. Dari situlah Pras memahami kehidupan Meirose secara singkat. Sejenak ia teringat akan bayang2 ibunya yang dulu juga bunuh diri dihadapannya.

Pras buyar dalam lamunannya ketika dokter memberitahu Pras bahwa proses kelahiran berjalan lancar dan bayinya laki-laki, yang kemudian dinamai Pras dengan nama “Akbar Muhammad”

“Kamu harus kuat!” bisik Pras kepada Akbar. Ia sangat tidak ingin bayi itu mengalami hidup seperti dunianya di masa kecil.

Saat akan membesuk Meirose, betapa terkejutnya Pras bahwa Meirose tidak berada ditempat. Pras berlari keluar ruangan dan bertanya kepada dokter dan perawat namun merekarbpun tidak mengetahui keberadaan Mei. Pras berpikir kemungkinan Meirose akan melakukan upaya bunuh diri lagi dan ia segera menuju atap Rumah Sakit. Benar saja, Meirose sudah berada di tebing Rumah Sakit dan sejengkal lagi ia akan menjemput maut.


Sumber: instagram @suhayahs

“Titik kamu berdiri tepatnya 19 setengah meter sampai ke aspal. Kalau beratmu 50 sampai 55kg, itu ada kemungkinan kamu jatuh tapi tidak mati. Yang jelas, cacat!” jelas Pras. (duh, orang sudah mau bunuh diri masih sempat aja jelaskan konstruksinya)

“Siapa kamu!! Mau apa kamu di sini!”

“Meirose. Aku Prasetya. Aku yang bawa kamu ke rumah sakit ini.”

“Ngapain kamu nolongin aku! Mundur kamu!”

“Mei, dengar dulu Mei. Aku tau rasanya saat Ayah tidak hadir dihari penting kita. Aku tau rasanya melihat Ibu bunuh diri dihadapan kita. Sejarah pasti berulang Mei. Sekarang pikirkan masa depan bayimu Mei. Dia butuh kamu. Di butuh ibunya.”

“I don’t care!! Aku ga peduli!!”

“Mei, pasti nanti laki-laki itu akan….”

“Nanti! Nanti! Nanti! Bullshit! Laki-laki selalu bersembunyi dibalik kata-kata nanti! Pengecut semua!”

Kira-kira begitulah drama singkat sebelum Mei mencoba bunuh diri.

“Mei, dengar dulu mei.. Meii……..”

Meirose pun tanpa pikir panjang lagi menjatuhkan dirinya namun Pras segera menggapai tangannya. Di saat genting itu, Mei tetap berontak dan ingin Pras melepaskannya. Hingga akhirnya Pras mengeluarkan kalimat yang bikin wanita ngerasa hidup indah berakhir saat itu juga :')

"Let me go! Let me go!" (eh bacanya jangan pake nada Frozen ya, hehe)


"Demi Allah mei, jangan mei!!"


"Please, let me go!!!"


“Aku akan nikahin kamu, Mei!”

“Bohong! Lepasin aku!”

“Aku janji Mei, aku akan nikahin kamu! Sekarang!”


Sumber: instagram @suhayahs


Hmmm hmmm hmm hmmm *kemudian menyanyikan soundtrack Titanic*

Dalam hati perempuan2 pasti gemes banget kan ya. Apa Pras ga inget Arini dan Nadia ya saat itu T.T koq tega sih..
Meirose pun pasti ga nyangka kalau ternyata laki-laki yang mau menikahinya itu adalah laki-laki yang telah berkeluarga :’)
Dengan mahar dan saksi seadanya, pernikahan itu pun dilangsungkan malam itu juga. Meirose bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengganti keyakinannya sebagai seorang Muslimah. Pras hanya menghubungi kedua rekannya dan mereka segera mendatangi Pras dan Meirose. Tentunya pernikahan itu menjadi pro dan kontra dipandangan teman2nya. Tapi toh, pernikahan itu telah terjadi. Semua terjadi begitu cepat, bahkan Pras pun tidak menyangka dia melakukan hal yang justru akan menyakiti hati Arini.

Pagi harinya, ia melanjutkan perjalanannya ke rumah mertuanya. Saat itu pula Arini menghubunginya dengan suara lirih.

“Mas, kamu di mana?”
Dengan suara kikuk Pras menjawab “Oh, ini lagi di jalan menuju Muntilan. Kemarin sibuk banget.”
“Iya mas, aku tunggu”

Pras merasa ada yang berbeda dari lirih suara Arini, seperti orang yang sedang menangis.
Ternyata, begitu tiba di rumah orang tua Arini, sudah banyak orang di sana. Mereka semua mengenakan pakaian hitam. Pras segera keluar dari mobilnya dan bergegas menerobos barisan pelayat. Ia masih tidak tau siapa yang meninggal. Sampai ia melihat Arini dan Ibu Mertuanya, Pras terduduk lesu. Baru saja semalam ia mengkhianati pesan Bapak Arini untuk tidak menyakiti Arini, kini Bapak mertuanya jutsru telah meninggal dunia. Ia peluk Arini, dan ia simpan dalam-dalam rahasianya semalam yang telah menikahi wanita lain. Ia urungkan niatnya untuk berterus-terang, sebab tidak mungkin ia menghancurkan hidup Arini saat itu juga.

Tak diduga-duga, datang seorang Ibu dan anaknya yang mendekat ke keranda Bapak Arini. Semua pelayat terheran-heran siapa mereka itu. Ibu Arini hanya menunduk dengan wajah sedih. Ibu Arini sadar bahwa suatu saat rahasia suaminya pun akan diketahui oleh Arini. Bapak Arini memiliki dua istri. Arini terkejut bukan main.

*whooooaaaaa*
Ia tidak menyangka bahwa Bapak yang selama ini ia banggakan ternyata berpoligami. Satu hal yang sangat ia benci.

“Arini.. Bapakmu itu orang baik. Dia hanya ingin menolong perempuan itu..Bapak sudah berlaku adil.”

“APA MENOLONG ORANG HARUS DENGAN MENIKAHINYA, BU?!!!”

*gleeekk!!* Prasteya yang mendengar hal itupun seperti di hantam bongkahan batu akik segede gaban. Lagi-lagi Pras berusaha keras untuk menyembunyikan rahasianya.
Ia dekati Arini dan mencoba menenangkannya.



“Kamu gak akan mengkhianati aku kan mas. Kita akan terus seperti ini kan? Kita akan berdua terus kan?” 
Arini mencoba mencari ketenangan dihadapan Pras dengan deraian airmata. 
Ah, mba Arini..seandainya saja mba tau….

Selepas itu, hari-hari Pras harus terbagi antara Meirose dan Arini. Sebenarnya Meirose sudah mengingatkan Pras untuk segera mengatakan kepada Arini, namun Pras belum ingin mengatakannya sekarang sebab Arini baru saja kehilangan Ayahnya. Kalau bukan karena Akbar, Pras bisa saja lebih menghabiskan waktu dengan Arini.


Suatu ketika, Akbar sakit, sehingga Pras dan Meirose membawanya ke apotek untuk membeli obat. Di saat yang bersamaan, Arini pun ke apotek tersebut untuk membeli obatnya Nadia. Namun, di saat Arini datang, Pras sedang keluar mencari ATM. *suasana yang menegangkan*


Keesokan harinya, pembantu Arini menemukan resep obat untuk anak bayi di saku celana Pras dan ia segera menyerahkan kepada Pras. Di resep itu tertulis nama Akbar Muhammad. Langsung saja Arini menghubungi apotek tersebut dan mencari tau siapa yang memesan obat itu. Arini lemas saat ia mencoba menghubungi nomor telepon rumah pemesan obat itu dan yang mengangkat adalah suara suaminya sendiri dan terdengar suara bayi di sana.

Tanpa pikir panjang, ia raih kunci mobil dan menuju alamat yang tertera pada resep obat tersebut.

Jantung Arini serasa terhenti saat ia melihat mobil putih Prasetya, suaminya, ada di halaman parkir rumah seseorang. Tubuhnya semakin terguncang hebat saat Pras keluar dari rumah tersebut dan mencium bayi Akbar, lalu melaju pergi. Airmatanya sulit keluar, dan seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorakannya. Sakit.


Ini lah pra konflik dalam film ini,,


Setelah mobil Prasetya hilang dari pandangan, Arini memutar kemudi ke rumah Meirose. Tanpa basa basi, Mei mempersilahkannya masuk.


"Sudah berapa lama kalian menikah?"


"Semenjak Akbar lahir, Mba."


"Apa?!!! Jadi suamiku berzina sama kamu?!!!!"


"Bukan mba, bukan seperti itu. Mas Pras hanya menyelamatkan saya waktu itu."


"HEBAT!!! HEBAT KAMU!! KAMU SUDAH BERHASIL MEREBUT SUAMI SAYA !!"


Meirose hanya tertunduk diam, Ia tau betul bahwa Arini pasti akan marah besar.


"Iya mba, saya tau Mba Arini akan marah dan mengatakan saya merebut suami Mba."


"MEMANG!! Satu hal yang harus kamu tau, kamu sudah berhasil MENGHANCURKAN DONGENG SAYA HANYA UNTUK MENGHIDUPKAN DONGENG KAMU"


"Saya bisa jelasin mba..."

"Gak perlu! Semakin kamu menjelaskan semakin aku terluka!"

Next, setelah itu Arini pergi dengan kepingan-kepingan hatinya yang hancur dan derai airmata yang membanjiri pelupuk matanya. Ia pamit tanpa permisi dan mengendarai mobil dengan hati hancur bukan kepalang. Meirose saya terdiam lesu dan merangkul bayinya. Ia segera menghubungi Pras yang sedang ditengah-tengah rapat proyek, untuk memberi tau Pras bahwa Arini baru saja dari rumahnya.


Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan Arini. Ya, ia berkemas pergi. Masih dengan sesak hati dan butiran airmata. Pras mencoba menahannya.


"Arini kamu mau kemana"

"Aku mau pergi dari rumah ini!"

"Arini, dengarin aku dulu!"


"Kamu sudah janji sama aku mas. kamu sudah janji!! Jangan pegang aku!! Aku mau pergi!  Semuanya gak ada yang bisa dipercaya!"


"Arini, arini. Dengar dulu! Aku yang akan pergi. Aku yang salah.. Aku yang salah."


Setelah itu Pras pun pergi meninggalkan rumahnya dengan Arini dengan langkah gontai, kemana? Ya kerumah Meirose lah. Namanya juga punya istri dua. (Huaaaaaahhh!!!!! Sakitnya kebangetan atuh lah. :') Jambak rambut berbi bangg...)


Setiba di rumah Meirose, dengan wajah lesu ia segera mencari Akbar.
"Mana Akbar? Aku pengen ketemu Akbar." bagi Pras, Akbar sudah seperti moodboosternya. Pras pun akhirnya menjelaskan kepada Meirose bahwa ia dan Arini pisah rumah.


Yang saya lihat di sini, Meirose memang istri muda, tapi ia tidak bertabiat seperti istri muda yang jahat, yang bahagia ketika suaminya bertengkar dengan istri pertamanya. Tidak. Justru ia memposisikan diri sebagai istri kedua yang memang menyadari bahwa kehadirannya sudah merusak kehidupan rumah tangga orang lain. (Rumah tangga loh ya. Tingkatannya rumah tangga, bukan pacaran. Jangan disamakan lah :'>) Meirose sudah banyak berubah semenjak nyawanya diselamatkan oleh Pras. Ia sudah bisa lebih matang dan tidak gegabah. Ia masuk Islam pun baru, sehingga ia masih harus banyak belajar dari kesalahan di masa lalunya. 


Kemudian Pras hanya menghabiskan banyak waktunya di kantor dan sebagian di rumah Meirose. Karena konflik rumah tangganya ini tentu saja berdampak buruk dengan proyeknya. Proyeknya tertunda sehingga akan menyebabkan pembengkakan biaya. Di tengah perenungannya, Pras menyadari kesalahannya dan mencoba mencari jalan keluar. 


Di sisi lain, Arini pun semakin khusyuk berdoa kepada Allah atas ujian yang menimpanya. Segala gundah dan hancurnya hati, ia satukan lagi seraya menangis pada Allah. Beruntung, ia memiliki sosok Ibu yang memang sangat ia butuhkan sekali sebagai penyokong pijakannya yang rapuh. Ibunya telah matang betul dalam permasalahan ini, sehingga nasehat Ibu sangat bisa memberikannya udara segara. Sambil ibunya pun menjelaskan alasan mengapa saat itu ibunya memilih ikhlas.

"Bapakmu itu sudah berlaku adil, Arini. Saat itu ibu memang sedih, tapi ibu tidak ingin kamu juga menjadi korban kalau bapak sama ibu pisah. Ibu tidak tau, apa jadinya bila waktu itu ibu memilih pilihan yang satunya..."


"Apakah perempuan diciptakan hanya untuk bersabar dan ikhlas? Mengapa perempuan yang terus berkorban dan membiarkan hatinya terluka.."

Arini tersenyum dan menangis di pelukan ibunya, seolah ia tau apa yang akan ia lakukan.

Lagi, scene ini yang bagi saya sangat mengharukan.


 Suatu hari, Nadia akan tampil di pentas sekolah dan ia sangat ingin Pras, ayahnya, hadir dalam pentas tersebut. Semenjak pisah rumah, Pras dan Nadia tidak sering bertemu. Tentu saja itu menyebabkan rindu yang dalam bagi Pras. Nadia pun memintanya untuk hadir dan ia tidak akan mau tampil bila Pras tidak hadir.


Di hari saatnya Nadia menampilkan Dongeng Madania di sekolah, Nadia resah sebab Pras tak kunjung hadir. Arini pun menghubungi Pras untuk segera datang. Namun, di saat yang bersamaan pula, Meirose menelepon Pras, dan memberitahu bahwa Akbar muntah-muntah dan ingin segera di bawa ke dokter. Berat memang bagi Pras, namun ia memilih banting setir ke arah rumah Meirose.


Prasetya yang tak kunjung datang, ditelepon lagi oleh Arini.


"Mas, kamu di mana? Suara siapa itu? Kenapa ada suara bayi? Mas ?"


"Ehm.. iya, ini.. aku di rumah Meirose. Akbar sakit. Daritadi muntah-muntah."


Tidak tahan mendengar jawaban Pras, Arini pun memutuskan teleponnya dan mengadu kepada Ibundanya yang saat itu berada di sampingnya. 


Namun ternyata, Arini kembali menelepon Pras.


"Muntahnya sejak kapan?"


"Tadi pagi."


"Encer atau kental?"
ah, rupanya ditengah kesakitan hatinya, Arini masih berbesar hati untuk membimbing Pras dan Meirose dalam mengobati Akbar. Mungkin karena pengalamannya saat mengobati Nadia, Arini dapat menyimpulkan bahwa itu hanya masuk angin biasa dan cuma perlu diberi minyak kayu putih. Pras akhirnya bisa sedikit lega dan segera ia menuju pementasan. Saat Arini akan kembali ke ruang pementasan Nadia, Ibunya sudah berada di belakangnya dan tersenyum bangga dengan tindakan Arini yang sangat berbesar hati. (hiks..... :'>)



Suatu malam, Pras sedang dalam perjalanan ke rumah Meirose, sebab ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.  Namun di tengah perjalanan, ia melihat di dekat keraton ada seorang wanita yang akan dicelakai oleh laki-laki. Pras yang sedang banyak beban pikiran awalnya tidak ingin menghiraukannya. Tetapi nalurinya untuk kembali menolong orang lain pun mendorongnya untuk menyelamatkan wanita itu. Tanpa diduga, penjahat itu bersenjata tajam dan menusuk perut Pras. 

Meirose lebih dulu mengetahui keadaan Pras, sehingga ia segera menuju rumah sakit. Terlihat keadaan Pras sudah dalam balutan perban dan kabel di mana-mana. Raut penyesalan sangat tampak di wajah Meirose. Tak tahan ia tumpahkan airmatanya. Di saat itu, yang terdengar dari Pras adalah "Arini..arini.."

Dengan segera, Mei menghubungi Arini.

Arini datang dengan isak tangis yang pecah di ruangan itu. Ia sangat menyesali sikapnya. Ia hanyut dalam tangis yang sesegukan. Mei yang melihat Arini seperti itu merasa tidak enak hati. Dengan perasaan penuh salah, ia meninggalkan Pras dan Arini berdua.  Ia pulang dan menemui Akbar, anaknya. Dalam renungannya Meirose mencoba memperbaiki diri.

"Kalau saja aku mengenal agamu lebih dulu Ya Allah, aku gak akan membangun kebahagian di atas airmata perempuan lain" - Meirose

Suatu ketika, Amran dan Hartono (kedua teman Pras) mengunjungi Arini di rumahnya. Mereka mencoba menjelaskan alasan Pras saat itu melakukan hal yang demikian. Bahkan Amran pun mengingatkan Arini tentang betapa kelak mudahnya Arini masuk surga bila ia mampu ikhlas.

"Surga yang mas Amran gambarkan begitu indah, tapi maaf bukan surga itu yang saya rindukan. Makasih loh sudah jadi temannya Mas Pras." -Arini


Setelah beberapa lama, Pras pun sadar dan ditemani Arini yang tengah membaca Al Qur'an di sampingnya. Pras dengan suara lirih kepayahan, meminta maaf kepada Arini atas kesalahannya.

"Iya mas, aku ikhlas...." santun suara Arini menjawab maaf Pras, lagi-lagi dengan senyum dan airmata. 

AKU IKHLAS. Ah. Kata-kata IKHLASnya seorang wanita yang terluka hatinya itu lebih bersinar dari intan permata. Setelah hatinya hancur berkeping-keping dan dicuci dengan derai airmata, entah mengapa kata "ikhlas" itu jadi sangat berharga. Bukan untuk membahagiakan lekaki itu, namun untuk membahagiakan dirinya sendiri. Sebab pencapaian menuju kata ikhlas itu mengalami proses panjang, melibatkan Allah dan doa. Indah bukan? :') 

Bukan main-main Arini dengan kata ikhlasnya. Ia tak lagi ingin mengingat luka nya di hari kemarin, di hadapannya sudah ia bayangkan kehidupannya kelak yang tetap bersama Pras, dan Meirose.

Di pagi hari, Arini bertandang (halah) ke rumah Meirose. Tidak, kali ini ia tidak membawa air mata, justru kali ini dengan hati yang sangat lapang dan senyum merekah. 

"Mba arini?" Meirose dengan wajah kikuk membuka pintunya.

"Boleh saya masuk?"

"Oh iya, Mba silahkan."

Arini awalnya tidak menjelaskan maksud kedatangannya lagi kali ini, ia hanya ingin berbicara dengan Meirose sambil mendengar cerita masa kecil Meirose yang kelam. Selanjutnya ia mengajak Meirose untuk membawa serta Akbar ke rumah sakit untuk menjenguk Pras. 

Meirose pun setuju dan mereka bersama-sama ke rumah sakit. Di sana sudah banyak yang berkumpul, Ibu dan anak Arini, beserta teman-teman Arini dan Pras. Semua tampak sedikit awkward melihat keteguhan hati Arini yang berjalan bersama Meirose.

Nadia bertanya "Bunda, itu siapa?"

"Oh, ini Tante Mei. Mulai hari ini tante Mei jadi Adiknya Bunda.." Arini menjawab dengan man-tap. :')

Selang beberapa hari kemudian, Pras sudah boleh di bawa pulang. Ketika Arini sedang sibuk menurunkan barang-barang dari mobil, tiba-tiba Meirose datang dengan becak.

"Assalamu'alaikum, Mba Arini.."

"Wa'alaikumussalam Mei.. Ya Allah , kenapa kamu gak telfon aku aja kalau mau ke sini.."

"Gakpapa mba, aku ga mau ngerepotin Mba."

"Ayo, masuk..."

Singkat cerita, akhirnya Pras, Meirose, Arini, dan Nadia makan bersama-sama. Hmmm... Nadia pun dengan polosnya mengajak Meirose untuk menginap di rumahnya. (Duh nak, polos banget sih kamu :'> )

"Akbarnya aja yang nginap di sini..." Jawab Meirose.

"Gakpapa Mei, sekali-kali kamu nginap di sini juga, ya?" Kata Arini.

Pras yang mendengar itu seketika menghentikan suapannya. Entah apa yang dipikirkan, hehehe.

Tiba waktu sholat, mereka pun sholat berjama'ah. Pras menjadi imam untuk kedua bidadari dan satu putrinya . Wah... Maa syaa Allah.
Namun, ketika di Subuh hari, saat Arini hendak membangunkan Mei di kamarnya, Arini terkejut sebab ia tidak mendapati Mei di manapun, Ia hanya melihat Akbar dan handphone Mei di sampingnya. Ya, Meirose pergi. Ia menyadari betul akan kehadirannya yang sewaktu-waktu bisa saja menyebabkan kehancuran orang lain. Dalam handphone yang ditinggalkannya itu, kembali ia merekam video yang berisikan ungkapan terimakasih dan maafnya kepada Arini dan Pras. Ia juga menitipkan Akbar, agar dirawat oleh mereka.

Arini yang menonton video itu yang bergetar hebat dan melapor kepada Pras. Segera mereka bergegas untuk mendatangi Mei di rumahnya. (Eh, nda jadi sholat Subuh pak?)

Pras langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Arini dan setibanya di sana, si bibi memberitau bahwa Mei baruuu saja menuju stasiun. Langsung saja Arini dan Pras ke stasiun.

Inilah momen-momen akhir dari film ini.
Arini dan Pras berpencar di stasiun untuk mencari sosok Meirose dengan penuh cemas. Pras meneliti setiap gerbong-gerbong kereta dan ia melihat Meirose sedang menaikkan kopernya. Segera saja Pras menghampirinya dan menarik kembali Meirose beserta kopernya.

"Ayo pulang!"

Meirose menolak ajakan Pras dan menjelaskan alasannya pergi dan ingin menemui Papa nya di Jakarta.

"Mas, biarin aku pergi. Meirose yang sekarang bukan lagi Meirose yang dulu. Aku sudah banyak belajar mas. "

"Tapi Arini sudah ikhlas Mei..."

"Biarin aku mas. Aku yakin, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Aku ingin jadi perempuan itu."

Tak lama kemudian Arini pun menemui mereka berdua, suasana menjadi haru, Arini dan Meirose berpelukan. Di saat Arini sudah mengikhlaskan, ternyata Allah beri dua kebahagiaan. Ia bahagia terlepas dari sesaknya hati, dan bahagia sebab Pras kembali padanya lagi, meskipun saat itu ia sudah siap menerima Meirose. Akhir cerita, Mei akhirnya masuk ke gerbong kereta dan perlahan kereta berjalan meninggalkan stasiun. Arini dan Pras hanya bisa tersenyum seiring hilangnya Meirose dari pandangan.

"Hari ini, aku akhiri dongengku dengan kesedihan, agar dongeng wanita lain berakhir dengan kebahagian" - Meirose


 Kelebihan Film :
Film ini bagiku settingnya cukup natural, menceritakan kehidupan layaknya cerita nyata sehingga jalan ceritanya memang bisa merasuk dalam jiwa. Sedih dan bahagia menjadi satu. Yaahh seperti film2 drama pada umumnya.

Kelemahan Film :
Sebenarnya film ini minim kelemahan dari segi cerita, hanya saja ada satu scene yang mempertontonkan aurat Meirose yang saya nilai agak terlalu (maaf) sexy untuk ukuran film dengan nuansa islami. Dan sepertinya pemilihan judulnya terlalu kontroversi. 
Masa iya sih, ada yang ga merindukan Surga =D ????

Overall 8,5 untuk film nya ^_^

--------sekian-------


Tuesday, July 28, 2015

Pasca Ramadhan

Baru sekejap Ramadhan berlalu, belum habis lagi syawal dirindu, tapi terasa sekali ibadah-ibadah tidak selancar di bulan Ramadhan lalu..

Allahu..

Ada apa denganku..?

Allahu yaa Ghofaar..

Kembalikan lah ghirohku seperti ramadhan kemarin..

Aku takut bahwa ini pertanda bahwa sia-sia amalanku..

:'(

Wednesday, July 8, 2015

Ramadhan Jangan Pergi





Ku lihat RAMADHAN dari kejauhan...
Lalu kusapa ia... "Hendak ke mana?" .
Dengan lembut ia berkata,
"Aku harus pergi, mungkin jauh dan
sangat lama...
.
Tolong sampaikan pesan untuk
orang mukmin bahwa Aku akan pergi..
.
Syawal akan tiba...
Sampaikan salam & terima kasihku
untuknya karena telah menyambutku
dengan suka cita & melepas
kepergianku dengan derai air mata.
.
.
Ajaklah SABAR untuk temani hari-hari dukanya,
.
peluklah ISTIQOMAH saat ia kelelahan dalam perjalanan TAQWA,
.
bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan datang menyerang,
.
mintalah nasehat dari QUR’AN dan SUNNAH disetiap masalah yang dihadapi,
sampaikan pula salam terimakasih untuknya karena menyambutku dengan suka cita,
kelak akan kusambut ia di Surga dari pintu Ar-Rayan.."
Amiiin Ya Robbal 'Alamin...
.
Selamat meraih pahala terbaik di detik" terakhir RAMADHAN 😢
.
Masih ada beberapa hari lagi untuk
bercengkrama dengannya..
.
.
Ya Allah, jika berpisah dengan Ramadhan saja bisa sesakit ini, entah bagaimana rasanya ketika para sahabat ditinggal pergi oleh kekasih hati, Rasulullah shallallahu 'alaihi Wa Sallam . </3
.

Ya Robb, andai malam ini ada
diantara hamba2-MU yg Engkau
angkat derajatnya, Engkau ampuni
dosa2nya, Engkau lapangkan rezekinya,
Engkau muliakan keturunannya,
Engkau lepaskan dari kesulitan, Engkau
indahkan akhlaknya & Engkau berkahi
segala hartanya..
.
Maka insya ALLAH jadikanlah
saudara-saudariku ini beserta
keluarganya, sebaik2 hamba yg
mendapatkan rahmat dariMu..

Sunday, June 28, 2015

Perempuan Pencari Tuhan : Maa Qadrul Alallah illa Khoyro

Alhamdulillahilladzi bini'matitushsholihaat

Masih berbicara tentang postingan sebelumnya http://atmaidha11.blogspot.com/2015/06/perempuan-pencari-tuhan-kisah.html , dalam postingan ini saya mencoba sedikit menggambarkan sedikit perjuangan tentang hari kemarin, di mana kami benar-benar yakin bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Semua terjadi atas kehendak Allah :')



Dari awal saya bertemu dengannya (sebut saja Fulanah) itu tepatnya hari Minggu. Mungkin memang itu bukan kebetulan semata. Pasti Allah punya kehendak.

Di pertemuan itu memang tidak banyak yang saya tanyakan, akan tetapi layaknya pertanyaan umum kepada seorang muallaf, 
"Jadi nama Islam mu apa?" 

dia dengan sigap menjawab "Hah, aku ga mau ganti nama ah. Memang harus ganti ya?"

Karena yang saya tau, bila seseorang keluar dari agamanya yang terdahulu biasanya ia mempunyai nama Islam, jadi saya bertanya "Memang kamu bersyahadat di mana?"

"Di kontrakannya Bunga (-nama disamarkan)"

Dari situ lah akhirnya saya tau sedikit proses ia bersyahadat akhir April lalu, yang ternyata kurang memenuhi rukun sah syahadat di mana harus ada saksi laki-laki muslim minimal 2 orang dan tidak dibimbing oleh seseorang yang memahami ilmu agama.

"Jadi bagaimana waktu itu?" tanya saya

"Ya gitu cut, di depan anak-anak dikontrakan, trus mereka bilang 'Sah .. sah .. sah ..' "

"Jiaahh.. hahaha akad nikah kalii :') "

Berhubung saya ada mengenal seseorang yang pernah menemani kawannya yang juga muallaf, akhirnya saya menanyakan prosesi untuk masuk Islam secara sah itu bagaimana dan saya menyarankan si Fulanah untuk bersyahadat ulang agar status keislamannya diakui secara hukum dan agama. Di Samarinda, setau saya Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda dan Masjid Darussalam Samarinda mempunyai wewenang untuk mengeluarkan surat keterangan masuk Islam. Memang hal tersebut bukan menjadi rukun syahadat, hanya sekedar hitam di atas putih. Akan tetapi surat tersebut akan sangat berfungsi di kemudian hari untuk kepengurusan berkasnya (KTP, SIM, Surat Nikah, dll)

Tapi kepada saya dia mengatakan bahwa dia punya rencana sendiri. Dia bilang setelah selesai urusan skripsi ini dia akan mengambil kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri setelah itu baru dia akan bersyahadat secara resmi, karena dia khawatir jika skrang ia dapat surat itu, keluarganya akan melihat surat itu tanpa ia beritahu terlebih dahulu bahwa ia telah memeluk Islam.
(Fyi. Di sini ia tinggal bersama tante dan om nya, dan orgtua nya tinggal di kota lain. Tapi sejauh postingan ini diketik, keluarganya masih belum tau tentang keislamannya. Ia masih menunggu saat yang tepat)

Sebenarnya saya dan Fulanah dan Bunga bukanlah teman dekat. Sejauh ini hanya Bunga lah teman dekatnya Fulanah, dan kemana-mana selalu berdua. Hanya saja, ketika bertemu saya kali itu, Bunga sedang tidak di Samarinda. Akan tetapi, mendengar proses dia bersyahadat yang belum memenuhi rukun dan syarat sah syahadat, entah mengapa saya merasa bertanggung jawab untuk membantunya. Saya mengajaknya untuk menemui Ustadz yang saya kenal untuk mendapat bimbingan, dan ilmu tentang diin Islam. Alhamdulillah malam itu dia sepakat untuk datang ke kajian muslimah di hari Selasa.

Akan tetapi, di hari yang telah ditentukan itu Qadarallah dia tidak datang. Memang sebelumnya dia berkata bahwa agenda yang harus dilakukan dan tidak tau akan selesai jam berapa. Saya sedikit malu karena sudah bilang dengan Ustadz akan membawa seorang teman, dan ada perasaan khawatir kalau-kalau dia tidak serius ingin masuk Islam. Astaghfirullah, saya sudah berprasangka kepadanya. Tapi saya yakinkan diri lagi, tidak mungkin dia main-main, bukankah malam itu dia pergi tarawih di masjid meskipun sendirian?

Akhirnya saya mengatakan kepada ustadz bahwa in syaa Allah nanti akan saya bawa saja ke rumah Ustadznya.

Di perjalanan pulang, dia nge-Line saya dan mohon maaf atas ketidakhadirannya dan tidak menghubungi karena Hape nya saat itu juga Low Bat. Dia sedikit menyesal karena berarti harus menunda sampai minggu depan untuk bertemu dengan Ustadz dan menunda syahadatnya. Tapi saya katakan bahwa tidak perlu menunggu sampai kajian minggu depan karena bisa menemui Ustadz di rumah beliau, atau di acara Ifthor Jama'i di hari Kamis.

Setelah sepakat dengan Bunga, ia memutuskan untuk menemui Ustadz di hari Kamis, di rumah salah satu akhwat. Saya sengaja tidak memberi taukan kepada Ustadz ybs berserta istrinya, akan tidak kecewa lagi (Hehehe), dan Alhamdulillah Fulanah dan Bunga kali ini datang. Teman-teman akhwat yang lain juga sudah menunggu ingin berkenalan dengan Fulanah.

Yang serius dengerin tausyiah nya yaaa >.<


Di hari Kamis itu, menjelang waktu berbuka, ia menanyakan apa syarat yang harus ia penuhi agar Islam nya sempurna. Pak Ustadz dengan lembut dan jelas menjelaskan, dan menanyakan pula apa yang mendorongnya untuk masuk Islam.

"Loh, icut, kamu ga kasi tau?"

"Hehehe nggak, aku mau kamu sendiri yang menyampaikan."

Dia pun menjelaskan bagaimana awalnya, dan tiba-tiba saja airmatanya menetes. Entalah, mungkin ia memang sudah tidak tahan dengan cahaya Islam yang masuk ke hatinya terlalu dalam, sehingga segala konsekuensi tentang apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya nanti tidak menjadi halangan baginya untuk menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya.



Pak Ustadz menyarankan untuk bersyahadat saja di Islamic, dan baiknya hari Jum'at saja karena Hari Jum'at adalah hari Rayanya kaum muslimin dan muslimah dan akan disaksikan oleh banyak jama'ah.

"Gimana kalau besok, kan besok hari Jumat?" tanya saya

"Oia, besok Jum'at ya. Fulanah, gimana? Siap gak kalau besok?" Ustadz bertanya kepada Fulanah.

"Saya siap kapan aja Ustadz" aah, Ma syaa Allah, jawaban yang mantap sekali

"Baik, kalau begitu selepas kita berbuka nanti saya coba hubungi pihak Islamic. Saya minta datanya ya."

Saat dia memberikan data dirinya, saya terkejut ternyata dia anak semata wayang. Anak tunggal. :')
Bagi saya, nekatnya dia luar biasa. Jika dilihat dari background kesukuan saja, ia adalah keturunan yang memang kental dengan agama Protestan, belum lagi dia anak perempuan semata wayang, pasti orang tua nya akan menentang keislamannya. Tapi setiap ia ditanya bagaimana nanti hubungan dia dengan orang tuanya, ia dengan yakin menjawab "Saya hanya berdoa sama Allah supaya membolak-balikkan hati orang tua saya supaya menerima Islam juga"

Saya juga teringat dengan tausyiah Ustadz "Jika hidayah Islam itu hanya karena keturunan, lalu di mana letak keadilan Allah? Kita yang muslim saja sebenarnya perlu menanyakan kemusliman kita. Betulkah syahadat kita itu bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah selain Allah??? Mari kita introspeksi diri kita lagi, kita liat bagaimana ibadah kita. Apakah sholat kita sudah seperti yang disyariatkan? Jangan-jangan saat kita sholat, kita memikirkan hal-hal lain. Jangan-jangan, kita memang mengaku Islam, tapi kita tidak jalankan itu syariat Islam, kita mengidolakan artis-artis, atau bahkan mendatangi tempat-tempat yang memang dilarang oleh Allah. Kita mengaku Islam, hamba Allah, pengikut Rasulullah, tapi kita kenal gak siapa Tuhan kita? Rasul kita? Hati-hati, bisa jadi kita pun penyembah Thagut. Kita mengadakan tandingan-tandingan  Allah. Bila memang itu terjadi pada kita, bisa jadi hakikatnya kita telah keluar dari Islam. Oleh karenanya, saya menghindari mengatakan Islam itu sebatas agama. Sebab saat ini orang hanya meyakini agama itu sebatas kegiatan-kegiatan spiritual saja. Mari kita jadikan ini sebagai jalan hidup kita, sehingga apa saja yang akan kita perbuat memang sesuai dengan syariat Islam.
Kalau memang hidayah Islam itu hanya keturunan, di mana letak keadilan Allah? Sedangkan banyak orang-orang di luar Islam yang mencari kebenaran dalam agama ini,seperti Fulanah misalnya, ia menemukan Islam itu karena fitrah, dari hati. Jadi tidak bisa kita mengaku Islam hanya karena dilahirkan oleh orang tua yang Islam."

Baah... rasanya tertampar-tampar mendengar tausyiah ustadz itu. Benar! Kadang saya ga sadar sebagai seorang muslim ternyata masih jauh dari kata Islam. Apalagi bila di flashback ke cara hidup sebelum mengenal agama sendiri. Allahu Ya Ghoffar :')

Singkat cerita, selepas pulang agenda ifthor jama'i, saya, Fulanah dan Bunga janjian  untuk ketemuan di Islamic Center, jam 11 sudah di sana, mengingat akan mepet waktunya dengan sholat Jum'at.

Malamnya, Saya coba memfreshback sedikit tentang semingguan ini, kenapa saya yang dipilih Allah untuk bertemu dengan Fulanah? Kenapa saya dengan entengnya ngajak dia bertemu Ustadz? Kenapa dia mau-mau aja cerita sama saya padahal setau saya dia belum ingin Islam nya dia diketahui orang banyak, untuk mencegah bocornya kabar itu ke telinga orang tuanya tanpa dia yang beritau? Kenapa saya...? Kenapa?

Tapi saya coba muhasabah lagi, barangkali karena akhir-akhir saya krisis iman, ibadah masih sekedarnya, sekedar memenuhi kewajiban. Hati saya tidak hadir saat berdoa kepada Allah. Datangnya si Fulanah, barangkali juga jadi petunjuk dan peringatan ke saya untuk tetap teguh di atas diin Islam.

Saya pun mengajak lagi si Fulanah berdiskusi via Line, mencoba mengingatkan dia lagi bahwa jalannya dia panjang, dan ini hanya permulaan, sebab jalan di depan akan lebih berliku lagi. Bahkan awalnya kami memiliki panduan yang berbeda. Dia berangkat dari Al Kita, dan orang Islam dengan Al Qur'an nya. Tapi Alhamdulillah, memang nampaknya Allah telah memberkahi kemantapan dan kebaikan dalam hatinya.




Jum'at, 26 Juni 2015

Pukul 10.18 saya chat dia bahwa saya sedang bersiap-siap. Maksudnya supaya dia bersiap-siap juga. Tapi gak ada balasan.

Setibanya saya di Islamic, kira-kira 11 lewat sedikit pun saya lihat belum ada balasan dari dia.
Saya coba hubungi ke nomor telefonnya, 3 kali panggilan baru diangkat. Sedihnya, dia bilang baru mau berangkat. Duh, mau jam berapa nih sampai kesini, pikir saya. Sedangkan orang-orang sedang bersiap-siap untuk Jumatan. Saya menunggu sendirian di lorong Islamic sambil menghubungi teman ikhwan yang akan mengantarkan saya ke panitia di Islamic.

Sudah hampir pukul 12, belum ada tanda-tanda si Fulanah dan Bunga datang. Saya telepon berkali-kali pun tidak diangkat. Saya sempat cemas. Khawatir mereka kenapa-kenapa atau bahkan, khawatir rupanya si Fulanah berubah pikiran. :') Mungkin ada skitar 30 panggilan tak terjawab. Hahaha.

Akhirnya saya pasrah saja, dan menunggu di dekat tempat wudhu wanita. Gak lama, akhirnya mereka datang. Saya bisa bernafas lega.

"Icut, maaf yaa telat. Kamu nunggu sendirian daritadi?"

"Hahaha, iyaa gapapa. Kirain kenapa-kenapa di jalan."

"Gini Cut, tadi sebelum berangkat aku sempet mikir, koq tiba-tiba banget ya. Aku coba mikir-mikir lagi, tapi bukan karena ragu Cut. Aku cuma mikir, kalau bukan karena izin Allah, pasti aku ga bakal dituntun sampai akhirnya ada di sini, pasti ga mungkin kita ketemu kemarin. Padahal yang aku rencanain kan bukan seperti ini. Tapi rencana Allah itu kan lebih baik ya."



Duh, mbak! Lemes saya rasanya. Dia sudah seyakin itu. Memang, saya pun hampir gak percaya akhirnya terjadi dan berjalan alhamdulillah dengan mulus, dari pertemuan ga sengaja di hari Minggu itu, dan bertemu dengan Ustadz, sampai akhirnya bertemu lagi di Islamic di detik-detik dia akan menyiarkan keislamannya.



Segera kami menuju ruangan untuk mengisi biodata dan menunggu sampai orang selesai Sholat Jum'at. Di sela-sela menunggu orang selesai sholat, ada salah satu mbak-mbak di ruangan itu yang bertanya tentang kami bertiga. Nama, tempat tinggal, pekerjaan. Hanya ingin berkenalan. Mba itu juga bertanya kepada si Fulanah alasan mengapa ia ingin memeluk Islam. Apa karena ingin menikah?
Hahaha, sontak kami tertawa. Kami mencoba membantu menjawab bahwa murni dari hati. Bukan karena ajakan kawan atau paksaan, apalagi krena ingin menikah. Tapi ternyata dari penuturan mbak-mbak itu, bahwa sepengetahuan dia baru kali ini di Islamic yang berpindah agama menjadi Islam karena memang dari hati, sejauh ini biasanya karena pernikahan.



Dari situ saya berpikir lagi, bahwa keberanian dan kenekatan Fulanah saya salutkan. Untuk perempuan seusianya dia, dia berani memutuskan untuk berpindah agama dan tidak terlalu memusingkan apa yang akan orangtuanya katakan padanya nanti.

Detik-detik seusai orang-orang sholat Jum'at, petugas di Islamic memanggil Fulanah untuk ke dekat mimbar masjid.
Ahhh... deg-degan. :'D
Apalagi begitu kami mengintip ternyata Allahu Akbaaarr, masih banyak jamaah yang belum meninggalkan tempat sholat dan bersiap-siap menjadi saksi keislaman Fulanah. Ada Pak Ustadz Chairid dan Ka Romi dan Fawwaz juga (mereka orang yang saya minta tolong untuk membantu saya juga, kalau si Fawwaz dia adalah seorang Muallaf juga).

Awalnya Fulanah tidak berniat untuk mengganti nama, tapi petugas di sana bilang kelak di akhirat seseorang itu akan dipanggil sesuai namanya, oleh karenanya di sunnahkan untuk mengganti nama yang lebih baik. Karena mendadak, akhirnya yang keluar dari perkataan Fulanah adalah nama "Aisyah Az Zahra".


Saya melihat langkah pastinya menuju "meja pembaiatan" haha.. Duduk di hadapan ustadz pembimbing dan saksi.
Dibacanya surat pernyataan keluar dari agama sebelumnya dengan lancar dan pasti, tanpa keraguan yang terdengar seantero masjid islamic center yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi membaca syahadatain..


Suasana membaca surat pernyataan dan bimbingan syahadatain. Karena habis sholat Jum'at jadi banyak jama'ah laki-laki huhuhu. Gak tau kenapa ga dipasang aja hijabnya.


SURAT PERNYATAAN KELUAR DARI AGAMA TERDAHULU

Pada hari Jum'at, tanggal 9 Ramadhan 1436 bertepatan dengan tanggal 26 Juni 2015, Saya yang bertanda tangan di bawah ini Fulanah, dengan ini menyatakan tidak memeluk  agama atau kepercayaan yang telah saya anut selama ini yaitu Kristen Protestan. Demikian pernyataan ini saya layangkan dengan tulus ikhlas dan pikiran yang sadar serta dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani tanpa ada paksaan atau bujukan dari siapapun.

Setelah penandatanganan surat tersebut,  ustadz pembimbing memandu proses bersyahadat nya dan diikuti Fulanah dengan lancar.

Takbir pun menggema.. ALLAHU AKBAR!!!

 Ahlan wa sahlan saudariiku..Barakallahu fiiyki..

Selepas ia bersyahadat,  kami peluk dia dan terlihat basah matanya. Ah ia menangis :")

Senyumnya sumringah. Wajahnya bercahaya. Maa syaa Allah. Truly happiness ❤❤ Banyak sekali obrolan kami setelah itu yang hampir ga mungkin saya rincikan semua di sini. Dia sangat sangat berbahagia dengan status muslimnya dan tidak terlalu memusingkan bagaimana kelak reaksi orang tuanya. Ia hanya yakin Allah akan membantunya, sebab ia yakin semua akan ada ujiannya bahkan ketika seseorang telah beriman. Seperti yang tercantum dalam surah Al Ankabut(29) ayat 2.

Aisyah Az-Zahra telah menyadarkan saya bahwa beragama Islam tidak cukup hanya dengan status saja. Harus benar-benar tau siapa Robb kita. Oleh karena itu, penting sekali utk belajar TAUHID.

Ia membuka mata saya bahwa beribadah tidak boleh cepat puas hanya dengan beribadah seadanya.
Ia belum tau banyak hal, tapi ia semangat sekali untuk ber-qiyamul lail.
Saya? Selalu mencukupkan diri dengan ibadah yang ringan saja :')
Dia memang belum bisa mengaji, tapi ia sudah pernah khatam membaca arti dari semua Ayat dalam al Qur'an,  meski memang kelak ia harus terus dibimbing.

Dari pertemuan itu juga saya makin percaya bahwa sebaik apapun atau bahkan seburuk apapun rencana kita, memang Allah lah Yang Maha Berkehendak.
Serapih apapun rencana yang kita susun ke depan, pastinya Takdir Allah lebih rapi dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya :')

Allah Maha pengertian yaah.. Kita aja yang suka lalai..

Dear readers,  terlebih sahabat muslimin dan muslimah... Mari kita introspeksi diri, sejauh apa kita mengenal ISLAM? Sedalam apa kita meyakini ISLAM sebagai jalan hidup? Secinta apa kita terhadap keyakinan kita ini?
Sudahkah kita bercita-cita mati dalam keadaan Islam dan diridhoi oleh Allah? :')


Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Az Zumar :22)


Tuesday, June 23, 2015

Perempuan Pencari Tuhan (Kisah Inspiratif Seorang Muallaf)



Some People ask "Why" Muslims get excited when someone converts to Islam ???
Answer : Will you not get excited when your lost Family member returns home ???
.
Ya, siapa yang tidak bahagia saat bertemu lagi dengan saudara yang telah lama berpisah? .

Siapa yg tidak bahagia saat tau bahwa salah tau kawannya akhirnya memilih untuk  ber-ISLAM dan menjadi hamba Allah yang berusaha taat? :')
.
2 hari ini saya diperlihatkan oleh Allah betapa Maha Kuasanya Allah.. Dzat Yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Allah pertemukan lagi sy dgn seorang perempuan yg telah mencari dan menemukan kedamaian dalam Islam..
.
Kemarin malam, saat menuju tempat wudhu di salah satu masjid, scr ga sngaja saya melihat sosok perempuan yg saya kenal. .
Tapi ada yg membuat saya heran. Dia tertutup rapi dengan mukena abu2. Bukankah ia nasrani? Koq bisa ada dsini.
Saya putuskan utk menegurnya.. "Assalamu'alaikum ukhtii?? "
.
Ah, ia.. Dia salah satu orang yg pernah bersemangat sekali saat melihat saya "hijrah" dan ikut2an manggil "ukhti" sperti saudari sesama muslim lainnya..pdhal kala itu ia masih nasrani..
.
Akhirnya dia menoleh dan kami sama2 terkejut.. "ahh icut, akuu maluu.. Jangan bilang siapa2 yaa.." bgitu katanya.
.
Ma syaa Allah.. Seketika itu juga saya peluk dia.. :') Allahu akbar..haru rasanya..
.
Selesai wudhu,  kami sama2 menuju masjid..dan saya bertanya "Jadi, sekarang berjilbab juga? Gimana sih ceritanya..koq bisa.."
.
"Iyaa.. Sebisa mgkin aku berjilbab trus.. Tapi klau sudah dkat rumah, aku lepas. Karena org rumah belum ad yg tau. Orangtuaku belum tau ak muallaf.."
.
"Loh, jadi gmana?" .
"Nah itu lah cut.. Aaahh aku mau nangis kalau cerita : ')))" katanya sambil menghela nafas panjang..
.
Berhubung waktu di masjid sgt terbatas dan ga memungkinkan utk cerita panjang lebar..akhirnya kmi bertukar kontak aja. Setelah ia buka mukenanya, saya terpana..ternyata dibalik mukenanya itu, ia mngenakan jilbab syar'i yg lebar menutup dada bahkan pinggang nya, lengkap dengan kaus kaki :')


.
Singkat cerita obrolan kami berlanjut di Line.. Ia menceritakan dari awal "kegalauannya" dgn agama nya yg trdahulu. Hampir sama dengan sebagian besar kisah muallaf yg berawal dari Pencarian mereka akan keberadaan Tuhan, dan bingungnya mereka dengan konsep 2 Tuhan atau bahkan 3 Tuhan. 3 in 1. 1 in 3..
 .
Itu pula yg dialami Olehnya.. Sudah lama ia bertanya ttg konsep ketuhanan dgn kluarganya tapi tdak ada yg bsa menjawabnya scra logis. Ia putuskan utk sedikit2 belajar Islam, bahkan mendownload apps Qur'an Hp. Akhirnya dalam Qur'an ia dptkan jwaban bahwa Yesus (Nabi Isa) hanyalah seorang Nabi yang diciptakan oleh Allah. Oleh karenanya, gak mgkin Nabi Isa bsa menciptakan dzat layaknya Allah. Ia pun memiliki pemahaman bahwa Tuhan itu satu. Yaitu Allah.
.
Tapi ia belum mantap utk berpindah keyakinan, sbb ia harus memikirkan lagi smua konsekuensinya, dan masih perlu trus mncari tau.
.
Berangkat dr pemahaman itu, ia putuskan untuk rajin Membaca Al Kitab sbg kitab agamanya, tapi ternyata ia tak kunjung yakin dgn agamanya, ia justru menemukan fakta bahwa dlm Al Kitab pun ada panduan utk menghadapkan diri ke kiblat saat berdoa layaknya para muslimin lakukan. .
.Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa i  kepada TUHAN dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, (1 Raja-raja 8:44)


Di sela2 memahami Al Kitab, ia sempatkan
jg Membaca Qur'an via hape. Gak bisa membaca bahasa Arab ga memutuskan Semangatnya dgn membaca Artinya.. Allahu Akbar, malu rasanya.. Ia ga kehabisan akal utk berinteraksi dgn Al Qur'an meski ia blm menyatakan diri masuk Islam. : ' ))))
.
Smakin ia memahami Al Kitab nyatanya hatinya semakin terpaut dgn kebenaran dan kelogisan Al Qur'an (baginya).. Bahkan ia pun berdoa agar ALLAH membimbingnya ke jalan yg Allah ridhoi. Ia hanya ingin menjadi hamba yg beriman dan sholeh... (pernahkah kita berdoa seperti ini dgn ikhlas :'( ?)

.
Klimaksnya bisa jadi ketika itu ia sedang galau karena cinta. Dia merasa dia butuh pegangan. Dia butuh berdoa. Maka ia berdoa 5 kali sehari layaknya orang Islam. Ia mengungkapkan ke saya bahwa ia sangat setuju dengan adanya penetapan waktu sholat. Salah satu isi chat yg dia kirim ke saya: .

"Disaat itu aku butuh pegangan jd disaat itu aku putuskan untuk berdoa terus sm Allah 5 kali dlm sehari kyk wktu shalat krn menurutku ya aku setuju kita mmg harus sediakan waktu untuk berdoa sama yang menciptakan kita. Butuh ungkapkan syukur kita. Wlwpn diagamaku sblmnya mngatakan klo di agama kristen itu kita bs berdoa kapan aja gk perlu ditentukan. Tp disitulah krn tdk ada aturan akhirnya aku dan org kristen lainnya dulu mlh jrg bgt berdoa. Kecuali ya klo mau makan tdr dll gt kan. Nah setiap berdoa aku selalu mohon Allah bimbing aku kejalanNya, ke jalan yang benar-benar Dia ridhai. Aku percaya Allah gak akan membiarkan hambanya yang berusaha mendekatinya tersesat. Aku bimbang antara 2 pilihan. Bahkan pas digereja aku berdoa pas dkt akhir thn 2014. Aku minta Allah yakinkan aku dan beri aku petunjuk agama mana yg harus aku yakini."
.
.

Masih dgn kgalauannya, d januari 2015 ia coba lagi baca Al Kitab lagi utk yakinkan hatinya. Di saat itu jg ia ingin plg ke kampung dgn menggunakan bis. Tapi trnyata cuaca kurang mendukung, akhirnya ia berdoa agar Allah mencerahkan hati itu agar bisa pulang. Lagi2 ia bersyukur sama Allah krna ia merasa doanya didengar.



 .
Sesampainya di terminal, ia menunggu dan memanfaatkan wktunya dgn mmbaca AL QURAN, Bukan AL KITAB. Saat membaca potongan2 arti di Surah Al Baqarah,  ia tertegun dan menangis saat itu juga.. .

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Baqarah [2]:144)



Ia katakan,  smakin ia baca surah Al Baqarah itu semakin ia menangis. "Rasanya pengen saat itu juga pindah agama"
.
"Nah pas dijalan. Aku selalu hadap kekiri kn krn aku nangis terus. Sepanjang jalan nangis. Trus aku ngeliat ke langit. Trus aku ingat banyak mukjizat Allah lewat awan. Nah aku berdoa " Ya Allah seandainya kau menunjukkan mukjizatmu lewat awan ini. Hamba akan yakin padamu " dan bbrp saat kemudian aku lihat awan yg bentuknya seperti org lg sujud..
.
Trus lgsg air mataku jatoh lg. aku shock, kaget, terharu, bahagia campur aduk gtlah. Tp aku masi blm yakin krn mgkn itu cm ilusi mataku krn aku pengen bgt liat. Jd aku berdoa lg " Ya Allah sekali lg perlihatkan pada hamba "
.
Dan bbrp saat kemudian aku liat awan bentuknya org lg bershaf shalat.. Disitu aku akhirnya yakin. Disitu akhirnya aku semakin dekatkan diriku pd Allah. Jd mulai hari itu aku usahakan untuk baca Alquran tiap hari. Dan semakin hari semakin banyak petunjuk yg dikasih Allah ke aku

." (sewaktu saya baca chat yg ini, sy langsung merinding dan mata berkaca-kaca :') .
Segitu cepat nya Allah tunjukkan KuasaNya pada kawan saya itu :') tak trbayang bgaimana ada diposisinya saat menyaksikan kekuasaan Allah tsb..
.

Lanjut dia berkata, bahwa sempat takut bgmana kelak keluarga dan teman2 lama nya ngomongin dia sana sini.. Tapi itu g mmbuatnya ciut seketika. Justru ia mantapkan lagi hatinya dgn membaca AL QUR'AN dan ia terhenti saat mmbaca QS. Al Ankabut ayat 2: apakah manusia dibiarkan saja mengatakan "kami telah beriman sedang mereka tidak di uji?
.
 dgn yakinnya ia berkata bahwa ia hanya perlu takut pada Allah saja.. Mgkn mmg klrga dan tmn2 yg nasrani bakal kecewa dan menentangnya. "Tapi ya, itu ujianku. Aku harus bs lewati" .
Ia bahkan scara mantap mgatakan hal itu. Dia ga peduli lagi ttg apa yg akan org katakan, sebab sudah ada Allah dan Al Qur'an dihatinya..


Dulu ia juga pernah sharing perihal agama dgn kluarganya dan ia sampaikan bahwa AL KITAB skrg itu buatan manusia, bahkan Yesus pun gatau bagaimana isinya. Lantas ia hanya mndpat balasan "Memang siapa yg buktikan bahwa Al Qur'an bukan buatan Nabi Muhammad? "
.
Sebab wktu itu ia mmiliki keterbatasan pengetahuan,  jadilah ia tdk bsa mnjawab. Akan tetapi, dmalam harinya saat ia mendengar siaran radio islam yang BIASA ia dngarkan, sang Ustadz trnyata ttg Menjelaskan tntang Nabi Muhammad adalah seorang yg tdak bsa membaca dan menulis..oleh karenanya mustahil Al Qur'an ditulis oleh Nabi Muhammad. Malam itu pula ia mendapatkan jawabannya :')
.
❤ man yahdillahu fala mudhillalahu, wa man yudhlillahu fala hadiyalahu. ❤
.
Sangat banyaak sekali ibroh yg bsa dipetik dalam kisah muallaf salah seorang kawan saya kali ini. .
Semangatnya, keyakinannya, perjuangannya. Ia lakukan tanpa ragu.
.
Di bulan Ramadhan ini, ia sahur diam-diam. Bila tiba waktu sholat, ia kunci pintu kamarnya. Bila keluar rumah, diam2 ia kenakan jilban syar'i nya. Semua itu ia lakukan diam2 karena ia masih merasa belum mampu dan cukup ilmu utk membalas pertentangan yg akan dia hadapi.. Tapi dia sudah punya cukup IMAN utk menjalankan perintah Allah,  Rabb nya yang satu. .
.
Malu rasanya.
.
Dia yg tak patah semangat utk membaca Al Qur'an,  meski masih belajar Iqro, ia smpatkan membaca kandungan isi ayat2 dalam Al Qur'an,  shingga makin kuat hatinya.
.
Dia tak ragu menutup aurat dengan baik. Bahkan, dengan islam nya dia, Allah menjadikannya pintu masuk hidayah bagi Temannya yang belum menutup aurat.. .
Dia biasakan pendengarannya dan memanfaatkan waktunya utk mendengar ceramah islam, meski kala itu ia belum berislam.. Ahh, semoga engkau Istiqomah hingga akhir hayat saudariku :') .

Dia bukan seperti bayi yang lahir. Tidak. Sebab bayi yg lahir ke dunia tidak membawa apa2. Sedangkan ia, dengan islamnya dia, maka dosa2nya terdahulu Allah gntikan menjadi pahala. .
Kalau dosa aja jadi pahala,  apalagi kalau kebaikan2nya.

ALLAHU AKBAR! .
Semoga menjAdi motivasi utk kita bertaubat atau bahkan memperbaiki taubat.


A placed where my heart is....

Makin hari makin kangen suasana rumah di Samarinda. Cuaca yang gloomy, mendung mendung adem, Sehra bobok, dan sendirian begini bikin hati ma...